Pertamina Sub-sub

  • Bagikan

Dalam masa pancaroba seperti itu tentu akan muncul banyak keluhan. Setidaknya gerundelan. Manajemen yang mau banyak mendengar tentu akan mengurangi keresahan seperti itu.

Saya dengar, restrukturisasi ini atas inisiatif penuh dari kementerian BUMN. Bukan dari inisiatif Pertamina. Berarti kementerian BUMN akan memonitor baik-baik apa yang terjadi setelah palu restrukturisasi diayunkan.

Saya tentu setuju –emangnya punya hak untuk setuju atau tidak setuju? –dengan langkah Erick Thohir itu. Secara struktur bisa lebih bagus. Lebih jelas.

Tapi apakah itu sudah menjawab tantangan masa depan Pertamina?

Rasanya belum. Itu baru ”menertibkan” struktur di Pertamina. Bisnisnya masih biasa seperti yang lama.

Masa depan Pertamina adalah: apa yang akan dilakukan setelah mobil listrik menggantikan mobil bensin. Memang ada sub-holding bidang energi baru, tapi masih lebih berat ke geotermal. Sedang di proyek baterai lithium Pertamina hanya memegang 20 persen saham.

Saya juga mendengar ada selentingan ini: setelah restrukturisasi, Pertamina lebih bisa mencari uang. Terutama dari pasar modal. Sub-sub holding itu bisa go public. Satu per satu. Mereka sudah bukan BUMN. Mereka sudah berstatus anak perusahaan.

Bahkan anak-anak perusahaan sub holding –cucu Pertamina– juga bisa go public sendiri-sendiri.

Maka harus saya akui, langkah-langkah besar kini lebih mampu dilakukan oleh BUMN. Suasana politiknya adem ayem. Sangat memungkinkan untuk dilakukannya langkah besar.

Jangan harap yang seperti ini bisa dilakukan di masa lalu. Ketika peran DPR masih sangat besarnya.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan