Jokowi: Jangan Mahasiswa Dipagari oleh Terlalu Banyak Program-program Studi di Fakultas

Selasa, 14 September 2021 21:52

Presiden Joko Widodo

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Presiden Joko Widodo mengharapkan mahasiswa mampu beradaptasi dengan industri 4.0, disrupsi teknologi, dan pandemi yang menyebabkan tingkat ketidakpastian global menjadi tinggi.

Jokowi menginginkan pendidikan tinggi harus memfasilitasi mahasiswanya untuk mengembangkan talenta dan mengubah pola-pola lama agar dapat mengatasi perubahan dunia.Pernyataan itu disampaikan Presiden Jokowi dalam Pertemuan Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia yang dilaksanakan di Auditorium Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret, Kota Surakarta, Senin (13/9).

“Jangan mahasiswa itu dipagari oleh terlalu banyak program-program studi di fakultas. Fasilitasi mahasiswa sebesar-besarnya untuk mengembangkan talentanya yang belum tentu sesuai dengan pilihan program studi, jurusan, maupun fakultas.”

“Kami ingat, pilihan studi jurusan dan fakultas tidak selalu berdasarkan pada talenta. Dan ketidakcocokan itu kadang-kadang terasa saat kuliah,” ucap Presiden Jokowi.

Presiden menyebutkan seseorang bisa berkarier jauh dari ilmu yang didapatkannya pada masa kuliah, seperti yang dialami oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.

“Seorang Insinyur Teknik Fisika Nuklir, kemudian menjadi bankir. Namun nyatanya juga bisa melesat sampai menduduki tangga paling puncak Direktur Utama Bank Mandiri. Melompat lagi jadi Menteri Kesehatan,” kata presiden.

Eks Gubernur DKI Jakarta itu juga mengingatkan saat ini Indonesia sedang berada pada transisi perubahan besar dunia yang harus diantisipasi bersama.

Untuk itu, mahasiswa harus memahami banyak hal untuk mengatasi perubahan yang terjadi. “Mahasiswa harus paham semuanya, paham matematika, paham statistika, paham ilmu komputer, paham bahasa. Dan bahasa itu bukan bahasa Inggris saja, tetapi juga bahasa coding,” ujar presiden.

Eks Wali Kota Solo itu juga memandang seorang mahasiswa tidak perlu pindah program studi, jurusan, dan fakultas. Namun, mengambil kesempatan untuk kuliah sesuai talentanya.

“Ini yang harus kami fasilitasi. Perbanyak mata kuliah pilihan, baik di dalam kampus maupun di luar kampus,” ucap presiden.

Presiden memandang perlunya memberikan mahasiswa kemerdekaan untuk belajar. Mahasiswa harus belajar dari siapa saja, dari praktisi, dan industri.

“Karena sebagian besar nanti akan menjadi praktisi. Itulah esensi Merdeka Belajar, di mana mahasiswa merdeka untuk belajar. Dan kampus juga memperoleh kemerdekaan untuk berinovasi,” ujar Jokowi.

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim yang menjadi pembicara dalam pertemuan ini mengatakan bahwa sesuai arahan presiden, para rektor harus terus memberikan dukungan untuk bersama-sama mendorong transformasi pendidikan perguruan tinggi.

“Merdeka Belajar Kampus Merdeka bukan perubahan yang kecil, ini perubahan yang besar. Dengan harapan bisa mengejar ketertinggalan dan bahkan lompat melampaui negara-negara maju,” ujarnya.

Turut hadir mendampingi Presiden dalam pertemuan tersebut, Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, Rektor Universitas Sebelas Maret selaku Ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia Prof Jamal Wiwoho dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. (jpnn/fajar)

Bagikan berita ini:
6
7
4
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar