Sembilan Nakes Korban Teroris KKB Trauma, IDI Papua: Pelayanan Kesehatan Dihentikan Menunggu Jaminan Keamanan

Minggu, 19 September 2021 23:01
Sembilan Nakes Korban Teroris KKB Trauma, IDI Papua: Pelayanan Kesehatan Dihentikan Menunggu Jaminan Keamanan

Tenaga kesehatan yang tergabung dalam IDI menggelar aksi damai di Oksibil, Provinsi Papua, Kamis (16/9), sebagai ungkapan rasa duka atas peristiwa kekerasan terhadap tenaga kesehatan. (IDI Papua/Antara)

FAJAR.CO.ID, PAPUA — Sebanyak sembilan tenaga kesehatan (nakes) korban kekerasan di Puskesmas Kiwirok, Pegunungan Bintang, Provinsi Papua, Senin (13/9), saat ini menjalani pemulihan trauma dan pengobatan.

”Sudah dievakuasi ke Jayapura dan semuanya saat ini sedang dalam penanganan medis dan psikis untuk trauma yang dialami,” kata Ketua Ikatan Dokter Indonesia Provinsi Papua Donald Aronggear seperti dilansir dari Antara pada Minggu (19/9).

Dia mengatakan, nakes tersebut yakni Restu Pamanggi, Marselinus Ola Attanila, Manuel Abi, Martinus Deni Satya, Lukas Luji, Patra, Siti Khodijah, Katrianti Tandila, dan Christina Sampetonapa. Mereka bertugas di Puskesmas Distrik Kiwirok.

”Kondisi Restu Pamanggi yang mengalami fraktur di bagian tangan sudah dioperasi dan sedang dalam proses pemulihan secara medis seraya menjalani pemeriksaan psikis untuk pemulihan secara mental,” ujar Donald Aronggear.

Sedangkan jenazah suster Gabriela Meilani yang wafat dalam peristiwa penyerangan tersebut, sudah dievakuasi dari jurang dan ditempatkan di lokasi perlindungan terdekat di Kiwirok. ”Proses evakuasi jenazah oleh helikopter TNI terkendala cuaca yang kurang baik serta adanya penembakan,” terang Donald Aronggear.

Seluruh pelayanan kesehatan di wilayah Kiwirok, Oksibil, dan Pegunungan Bintang, lanjut dia, saat ini dihentikan sementara karena situasi yang belum sepenuhnya terkendali. ”Pelayanan kesehatan dihentikan menunggu jaminan keamanan dari pemerintah untuk para tenaga kesehatan yang bertugas,” tutur Donald Aronggear.

IDI Papua, menurut dia, telah mengirimkan surat kepada Gubernur Papua untuk meminta jaminan keamanan dari pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi, dan pemerintah pusat. Namun, hingga saat ini belum mendapat tanggapan.

”Kami minta pada seluruh pihak untuk memberikan privasi bagi para tenaga kesehatan yang menjadi korban penyerangan tersebut karena masih mengalami trauma,” papar Donald Aronggear.

IDI Papua juga menyampaikan terima kasih atas bantuan dan kerja sama dari TNI-Polri di Papua yang telah membantu mengevakuasi hingga menyediakan fasilitas transportasi bagi para korban.

”Kami berharap agar segera ada jawaban dari pemerintah provinsi dan pusat untuk penanganan masalah ini. Supaya aktivitas melayani masyarakat terutama di wilayah pedalaman bisa segera dilanjutkan dan masyarakat yang membutuhkan penanganan kesehatan segera bisa ditangani,” ujar Donald Aronggear. (ant/jpg/fajar)

Bagikan berita ini:
3
3
8
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar