Keajaiban Sedekah Membantuku Lewati Masa Sulit

Rabu, 22 September 2021 15:20
Keajaiban Sedekah Membantuku Lewati Masa Sulit

ILUSTRASI.

FAJAR.CO.ID — Aku tidak menyangka keajaiban sedekah membantuku melewati masa-masa yang sangat sulit.

Namaku Dian. Aku pernah merasa sangat terpuruk ketika baru lulus dari kuliah.

Saat itu aku seperti pengangguran. Aku benar-benar merasa tidak memiliki kontribusi terhadap keluarga.

Alih-alih berkontribusi, aku justru menambah beban keluarga. Omongan-omongan miring dari tetangga sering kudengar.

“Nggak apa-apa. Namanya juga masih usaha,” kata Bapak kepadaku.

Aku tahu Bapak sedang membesarkan hatiku. Namun, aku tetap merasa kecil hati.

Aku sebenarnya sudah berusaha melamar ke sana kemari. Namun, semua lamaranku mentah.

Aku selalu gagal. Tidak ada satu pun perusahaan yang menerimaku. Aku bingung sendiri.

Aku pernah sudah menjalani tes sampai tahap akhir. Saat itu kepercayaan diriku membumbung.

Aku merasa akan diterima. Aku pun mulai merangkai impian jika mendapatkan gaji pertama.

Aku ingin membelikan Bapak baju. Aku ingin mengajak Bapak makan-makan di restoran.

Namun, setelah satu bulan, tidak ada panggilan. Aku gagal lagi. Hatiku hancur berkeping-keping.

“Jangan sedih, Nak. Hidup yang seperti itu. Nggak semua yang kamu inginkan bisa tercapai,” kata Bapak.

Aku mendongak. Wajah keriput Bapak tepat berada di atasku. Bapak sudah sangat tua.

Aku melihat ketegaran di matanya. Bapak sudah berjuang sejauh ini. Dia selalu membanggakanku. Bapak selalu menganggap aku anak terhebat.

Suatu ketika aku mendapat panggilan lagi. Aku sudah melalui beberapa tes sebelumnya.

Mungkin ini tes terakhir. Aku sebenarnya ragu. Namun, aku tetap harus berusaha.

Aku bersiap sejak pagi. Bapak sudah menyiapkan makan dan teh hangat untukku.

Bapak juga menemaniku sarapan. Aku berusaha makan dengan lahap meskipun pikiranku tidak tenang.

“Ntar jangan lupa berdoa dulu,” Bapak mengusap kepalaku.

Aku berangkat menggunakan sepeda motor. Pikiranku cukup kalut. Bayang-bayang kegagalan menghantuiku.

Di tengah perjalanan, aku melihat kakek yang sedang menjual makanan ringan. Entah kenapa aku tergerak membelinya.

Aku pun berhenti, lalu membeli barang dagangannya. Dia tampak bahagia. Aku bisa melihat gurat kebahagiaan di wajahnya.

Kakek itu tidak berhenti mengucapkan terima kasih. Aku turut merasakan kebahagiaan.

Aku menunggu di ruang tunggu dengan gelisah. Sebentar lagi giliranku masuk ruangan vonis itu. Apakah aku akan diterima? Aku tidak tahu.

Namaku dipanggil. Aku masuk ruangan dengan hati berdebar. Aku berusaha setenang mungkin menghadapi berbagai pertanyaan.

Cukup satu jam. Aku sudah melewati wawancara itu. Aku pulang melewati jalan yang sama.

Aku kembali melihat kakek yang berdagang makanan ringan tadi. Entah kenapa aku lagi-lagi ingin berhenti.

Aku menepikan sepeda motor, lalu duduk di sampingnya. Dia tampak letih. Dia mengaku baru aku yang membeli dagangannya.

Aku melihat uang di tas. Tinggal Rp 100 ribu. Aku memberikan Rp 90 ribu kepadanya. Uang Rp 10 ribu kusimpan untuk membeli bensin.

Kakek itu hampir menangis. Aku sampai tidak kuasa menahan kesedihan. Aku pun pamit.

Dua hari berselang, aku mendapat panggilan lagi. Rupanya aku diterima bekerja di tempat itu. (*)

Bagikan berita ini:
3
9
6
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar