Bukan Orang Ketiga

Minggu, 26 September 2021 13:00

Ilustrasi Koran FAJAR

Cerpen Pangerang P. Muda

/ Istri /

Kamu pikir aku benar-benar menyetujui ia ada di tengah kita, dan tinggal di rumah kita? Aku hanya berpura-pura setuju karena iba melihatmu merengek-rengek seperti anak kecil meminta mainan. Coba bayangkanbagaimana perasaanku waktu kamu minta izin masuk kamar berduaan dengannya;bibirku memang melekuk senyum, tetap duduk tabah di depan layartivi, bahkan berpura-pura menganggap yang kamu lakukan itu hanya lucu-lucuan, tapiperasaanku amat perih. Pantas ada temanku bilangkebanyakan laki-laki tidak peka terhadap perasaan perempuan, dan salah satu laki-laki itu ternyata kamu.

Makanya kuabaikan pesanmuuntuk tidak bercerita ke orang lain tentang masalah kita. Enak saja menyuruh menyimpan sakit hatiku sendiri.Itu beban, dan membagi beban kepada sahabat, paling tidak bisa meringankan.

“Setiap melihatnya, rasanya aku ingin menggoroknya!”

“Siapa?”

“Simpanan suamiku. Cuma, kalau sudah kugorok, bagaimana menjelaskan agar tindakanku itu bisa dibenarkan suamiku? Sudah pasti pula suamikuakan marah, marah besar kukira.”

Sahabatkuterlongong-longong mendengar omonganku,sebelum menyodorkan segelas air putih. “Kamu kelihatan sangat emosional,” lipurnya. “Terus terang, aku kaget kalau suamimu yang kulihat sangat pendiam itu, ternyata sampai hati punya simpanan.”

Bagikan berita ini:
7
3
4
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar