Mabes Polri: Kasus Dugaan Pencabulan di Luwu Timur Berpotensi Kembali Diusut

Kamis, 7 Oktober 2021 19:37
Mabes Polri: Kasus Dugaan Pencabulan di Luwu Timur Berpotensi Kembali Diusut

Foto ilustrasi yang kini beredar luas di media sosial.

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Rupanya, masih ada pintu terbuka untuk mengungkap kasus dugaan pencabulan oleh seorang ayah berinisial AS kepada tiga anaknya di Polres Luwu Timur (Lutim).

Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Rusdi Hartono, mengatakan demikian. Dia bilang, meski Polres Lutim sudah terbitkan Surat Penghentian Penyidikan (SP3) karena tak ada bukti dugaan pencabulan terhadap korban, bukan berarti kasus ini bisa ditutup serapat-rapat mungkin.

“Tapi itu semua bukan berarti semua sudah final. Apabila di jalan ditemukan alat bukti baru, maka tidak menutup kemungkinan penyidikannya akan dibuka kembali,” katanya di Jakarta, Kamis (7/10/2021).

Senada dengan pernyataan penyidik Polres Lutim, jenderal polisi satu bintang ini menyatakan bahwa hasil visum di tubuh ketiga korban tidak ada.

“Memang itu kejadian tahun 2019. Laporan diduga ada pencabulan dan sudah ditindaklanjuti Polres Lutim. Hasilnya, itu dilakukan gelar perkara dan kesimpulannya tidak cukup bukti yang terkait laporan dugaan pencabulan. Maka dikeluarkan SP3,” tambahnya kepada wartawan.

Sebelumnya diberitakan, kasus dugaan pencabulan yang dilakukan oleh seorang ayah berinisial SA, kepada tiga anaknya sejak 2019 kembali mencuat. Itu kembali heboh saat beredar luas di sosial media.

Saat awal kejadian, lelaki SA dilaporkan oleh wanita yang saat itu masih menjadi istrinya, RA usai diduga telah mencabuli tiga orang anaknya. Pelaporan itu dilakukan di Polres Luwu Timur pada Oktober 2019 lalu.

Seiring dengan berjalannya waktu, penyelidikan kasus ini dihentikan. Alasannya, tidak ada bukti kuat dalam kasus dugaan pencabulan itu.

Sehingga, polisi menerbitkan surat Perintah Penghentian Penyelidikan (SP3), yang saat itu ditandatangani oleh Kapolres Luwu Timur, AKBP Leonardo Panji Wahyudi.

“Setelah kita lakukan visum tidak ada tanda-tanda, selaput darah robek atau semacamnya,” kata Leonardo saat dikonfirmasi wartawan.

Kursi jabatan Kapolres Luwu Timur pun juga berganti dari AKBP Leonardo ke AKBP Silvester.

Pernyataan AKBP Silvester pun senada dengan pernyataan AKBP Leonardo, bahwa kasus dugaan pencabulan ini tidak punya bukti kuat dan meyakinkan polisi.

“Saat itu tidak ada ditemukan bukti adanya tindak pidana yang sebagaimana dilaporkan,” kata Silvester kepada wartawan.

Ketiga korban yang diduga telah dicabuli oleh SA pun telah divisum di RS Bhayangkara, Makassar beberapa waktu lalu. Hasilnya, tidak ditemukan tanda bekas pencabulan seperti yang dimaksud.

“Hasilnya pada tubuh ketiga anak pelapor tersebut tidak ditemukan kelainan pada alat kelamin atau pun dubur (anus),” jelas Silvester.

Terpisah, Ketua Divisi Perempuan Anak dan Disabilitas Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Makassar, Resky Prastiwi, meminta kasus ini agar kembali diselidiki polisi.

Dia menilai, penanganan kasus dugaan pencabulan di Mapolres Luwu Timur hingga dilakukan SP3 dianggap cacat. Pelapor dan ketiga anaknya yang jadi korban tidak mendapat pendamping. Baik dari pendamping anak bagi korban, maupun pengacara bagi pelapor.

“Kalaupun dikatakan ibunya mengalami waham. Itu pemeriksaannya sangat tidak layak. Hanya 15 menit. Kemudian melibatkan dua psikiater, sementara acuannya kami untuk pemeriksaan berkaitan dengan proses hukum itu ada acuannya di peraturan menteri dan harus ada terdiri dari tim yang khusus, jadi ada psikiater, psikolog, dan tahapan-tahapan. Tidak serta merta orang mengalami waham hanya dalam 15 menit. Itu juga disampaikan, prosedur yang cacat itu disampaikan ke polda, tapi semua argumentasi kami tidak ditindaklanjuti,” jelas Resky. (ishak/fajar)

Bagikan berita ini:
3
4
6
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar