Tiga Kasus Dugaan Pemerkosaan yang Hebohkan Sulsel

Sabtu, 9 Oktober 2021 11:30
Tiga Kasus Dugaan Pemerkosaan yang Hebohkan Sulsel

ILUSTRASI pemerkosaan

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR – Sejumlah kasus dugaan pemerkosaan berkali-kali menghebohkan Sulawesi Selatan (Sulsel). Ada yang terungkap, dan ada pula yang tidak.

Untuk kasus yang tidak terungkap ini, sampai dengan hari ini belum ada kelanjutan dari aparat kepolisian. Fajar.co.id merangkum kasus dugaan pemerkosaan ini, yang sempat hebohkan Sulsel.

  1. Pegawai AA Mengaku Diperkosa Satpam Menara Bosowa

Pertama, wanita berinisial AA mengaku diperkosa oleh lelaki MR di lantai 21, Menara Bosowa, Makassar, pada 18 November 2020, subuh hari.

Kronologis saat kejadian, berawal saat AA baru saja menyelesaikan pekerjaannya di kantornya hingga larut malam. AA pun memilih pulang.

Namun saat sampai di indekosnya, AA justru tak bisa masuk karena sudah dalam keadaan terkunci. AA pun kembali ke kantornya dan memilih bermalam di sana.

Sesampainya lagi di kantornya itu, kata AA, lelaki MR yang merupakan satpam kantor mengajak AA untuk berpatroli di setiap lantai gedung ternama itu. Singkat cerita, saat berada di sebuah ruangan, AA pun diperkosa.

Dia mengaku tak bisa melawan karena AA menyebut, MR memiliki senjata hingga membuat ia pasrah jadi pemuas nafsu MR. Berselang beberapa hari, kasus ini pun dilaporkan ke Polrestabes Makassar.

Pasca AA melakukan visum dan membuat laporan, kasus ini tidak terungkap. MR sebagai terlapor tak kunjung ditahan karena dalam kasus ini, polisi tidak menemukan tanda bukti telah terjadi dugaan pemerkosaan terhadap korban AA.

“Hasil visum, tidak ada tanda kekerasan yang dilakukan lelaki berinisial MR. Tapi kasus ini tetap didalami Polrestabes Makassar. Sudah ada 3 saksi yang diperiksa. Termasuk korban,” kata Kasubbag Humas Polrestabes Makassar, Kompol Edhy Supriadi Idrus saat itu.

  1. Dugaan Pemerkosaan Oknum DPRD Maros

Kasus kedua, yakni seorang wanita berinisial IMS mengaku diperkosa oleh rekan separtainya sendiri berinisial SS sebanyak tiga kali di sejumlah wilayah dan tempat yang berbeda.

Yang membuat heboh, terlapor SS merupakan anggota legislatif di DPRD Maros dari fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan masih aktif hingga kini.

Kronologis singkatnya, IMS yang juga merupakan marketing di salah satu perusahaan investasi di Makassar, menawarkan SS untuk berinvestasi senilai Rp50 juta.

Dari penjelasan IMS, terlapor SS telah berjanji akan berinvestasi. Janji itu ia lakukan sebanyak tiga kali di tempat dan waktu yang berbeda, dan tak kunjung ditepati.

Kesal dijanji, akhirnya IMS melaporkan SS ke Polda Sulsel. Sampai saat ini, Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Endra Zulpan mengaku belum bisa memberikan perkembangan terkait kasus ini.

“Senin saya update yee,” singkat Zulpan, saat dikonfirmasi, Sabtu (9/10/2021).

  1. Ayah Diduga Rudapaksa 3 Anaknya di Lutim

Dan kasus ketiga yang saat ini masih heboh, yakni seorang ibu berinisial RA melaporkan mantan suaminya berinisial SA ke Polres Luwu Timur pada Oktober 2019 lalu.

Alasannya, kata RA, terlapor SA disebut-sebut telah melakukan rudapaksa terhadap tiga anak kandungnya yang semuanya masih di bawah umur. Laporan dan visum telah dilakukan.

Sayang, kasus ini tak kunjung terungkap sampai Oktober 2021 ini atau dua tahun pasca pelaporan. Pasalnya, polisi tak temukan bukti bahwa tiga anak itu telah diperkosa oleh terlapor SA.

Polres Luwu Timur, Polda Sulsel, dan Mabes Polri kompak menyatakan, bahwa kasus ini tak bisa dilanjut karena tak cukup bukti.

Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Rusdi Hartono, mengatakan demikian. Dia bilang, meski Polres Lutim sudah terbitkan Surat Penghentian Penyidikan (SP3) karena tak bukti dugaan pencabulan terhadap korban, bukan berarti kasus ini bisa ditutup serapat-rapat mungkin.

“Tapi itu semua bukan berarti semua sudah final. Apabila di jalan ditemukan alat bukti baru, maka tidak menutup kemungkinan penyidikannya akan dibuka kembali,” katanya di Jakarta, Kamis (7/10/2021).

Senada dengan pernyataan penyidik Polres Lutim, jenderal polisi satu bintang ini menyatakan bahwa hasil visum di tubuh ketiga korban tidak ada.

“Memang itu kejadian tahun 2019. Laporan diduga ada pencabulan dan sudah ditindaklanjuti Polres Lutim. Hasilnya, itu dilakukan gelar perkara dan kesimpulannya tidak cukup bukti yang terkait laporan dugaan pencabulan. Maka dikeluarkan SP3,” tambahnya kepada wartawan.

Sementara di pihak korban, Ketua Divisi Perempuan Anak dan Disabilitas Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Makassar, Resky Prastiwi, meminta kasus ini agar kembali diselidiki polisi.

Dia menilai, penanganan kasus dugaan pencabulan di Mapolres Luwu Timur hingga dilakukan SP3 dianggap cacat. Pelapor dan ketiga anaknya yang jadi korban tidak mendapat pendamping.

Baik dari pendamping anak bagi korban, maupun pengacara bagi pelapor.

“Kalaupun dikatakan ibunya mengalami waham. Itu pemeriksaannya sangat tidak layak. Hanya 15 menit. Kemudian melibatkan dua psikiater, sementara acuannya kami untuk pemeriksaan berkaitan dengan proses hukum itu ada acuannya di peraturan menteri dan harus ada terdiri dari tim yang khusus, jadi ada psikiater, psikolog, dan tahapan-tahapan. Tidak serta merta orang mengalami waham hanya dalam 15 menit. Itu juga disampaikan, prosedur yang cacat itu disampaikan ke polda, tapi semua argumentasi kami tidak ditindaklanjuti,” jelas Resky.

Resky mengaku telah bersurat hingga ke Mabes Polri terkait kasus ini agar segera diusut hingga tuntas dan menentapkan tersangka dalam kasus dugaan pencabulan oleh terlapor SA.

“Tentunya kami akan tetap desak Polri untuk membuka kasus ini kembali,” tandasnya. (Ishak/fajar)

Bagikan berita ini:
8
5
2
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar