Cerita Ganjar Pranowo: Rokok Bikin Dompet Negara Kaya, Tapi Petani Merana

Senin, 11 Oktober 2021 09:20
Cerita Ganjar Pranowo: Rokok Bikin Dompet Negara Kaya, Tapi Petani Merana

FAJAR.CO.ID, SEMARANG – Saat ini, rokok seakan jadi kebutuhan utama bagi sebagian besar kaum pria. Bila selesai makan, rokok jadi penutup. Berkumpul dengan teman pun, rokok juga menjadi andalan.

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo punya sepenggal cerita tentang rokok. Namun, bukan berarti ia menyarankan orang lain untuk merokok.

Ganjar hanya bercerita sedikit tentang kehidupan di balik sebatang rokok. Itu ia ceritakan di akun YouTube miliknya, yang dilihat hari ini, Minggu (10/10/2021).

Dengan ditemani segelas kopi, Ganjar mulai bercerita tentang sebatang rokok yang ia pegang di jarinya.

“Ternyata, di balik satu barang rokok ini ada jutaan orang menggantungkan nasib hidupnya. Bahkan negara pun merasakan manfaat yang sangat besar dari batang-batang rokok ini,” jelas Ganjar.

Hasil produksi rokok di Indonesia pun, lanjut Ganjar, bisa mencapai ratusan triliun rupiah.

“Lah wong cukai rokok saja sampai kurang lebih Rp170-an triliun. Kayaknya sih lebih. Dan ya, meski tidak merokok, saya tetap minum kopi,” tambah Ganjar, lalu menyeruput kopi di gelasnya.

“Ada sekitar tujuh juta petani dan pekerja yang menggantungkan nasib hidupnya dari industri rokok. Secara pendapatan untuk pekerja pabrik, nasibnya Alhamdullah sudah terjamin, aman, karena sudah jadi tanggungjawab perusahaan,” terang pria dengan ciri khas berambut putih ini.

Namun di balik itu, rupanya, Ganjar mengungkapkan bahwa produksi rokok yang menguntungkan negara, justru membuat petani buntung.

Lantas jika petani tembakau sudah merugi, mengapa tidak beralih ke komoditas lain saja?

“Kopi seumpama, jagung, kedelai, atau apapun itulah. Tapi persoalannya tidak semudah itu Ferguso. Bicara tembakau, kita berarti bicara soal peluang dan keberpihakan,” terang Ganjar yang mulai melucu di videonya itu.

“Kita bicara peluang karena di tanah air ini, di negara kita ini, mampu menghasilkan tembakau terbaik di dunia yang dihasilkan di tanah kita ini,” sambung Ganjar.

Beberapa jenis tembakau dan asalnya diungkapkan oleh pria kelahiran 28 Oktober 1968 ini.

“Ada tembakau srintil di Temanggung, tembakau rancak di Madura, tembakau virginia di NTB. Bahkan di Jember tembakaunya diproduksi dan diekspor untuk ceruru kelas dunia. Semua ini hebatnya bukan main,” bebernya.

“Ada 17 provinsi penghasil tembakau. Tapi yang tertinggi ada 4 provinsi. Jatim, Jateng, NTB, serta Jabar. Masing-masing punya grade (nilai) A sampai G, yang paling bagus dan mahal harganya,” jelasnya.

Harga tembakau per kilonya, lanjut Ganjar, berbeda. Tergantung dari jenisnya.

“Gambaran, grade (nilai) G yang biasanya dari Temanggung bisa sampai Rp1 juta per kilo. Sedangkan A sampai C, palingan Rp40 sampai Rp90 ribu,” jelasnya.

Ganjar pun mengungkapkan, dengan tarif begitu, seharusnya petani tembakau jadi sejahtera. Salah satu penyebabnya karena keberpihakan dari pemerintah Indonesia sendiri.

“Kalau melihat itu harusnya petani tembakau makmur bin sejahtera. Tapi nyatanya tidak karena kurangnya keberpihakan dari kita. Jadi kalau pabrik sudah memutuskan harga, petani tak punya bargaining (pendapatan),” jelasnya.

“Petani juga bertanya, contoh kenaikan cukai misalnya. Dampak besarnya ke petani. Cukai naik, pabrik mengurangi serapan lalu harga di petani langsung bles ambles. Tembakau dari grade A sampai D, anjlok sampai Rp10 ribu,” beberapa Ganjar.

Pria yang disebut-sebut sudah mulai punya pendukung untuk maju di sebagai Presiden, berharap pemerintah pusat, daerah, agar mendukung tembakau dalam negeri.

“Kita lindungi petani dan optimalkan industrinya. Karena bicara tembakau, sebenarnya tidak cuman menyangkut rokok. Kita bisa kok mengeksplorasi lebih jauh lagi soal tembakau ini,” tandas Ganjar. (Ishak/fajar)

Bagikan berita ini:
3
4
5
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar