Kasus Suap di Kota Tanjungbalai, ICW Desak Hadirkan Lili Pintauli Siregar di Persidangan

Rabu, 13 Oktober 2021 11:18
Kasus Suap di Kota Tanjungbalai, ICW Desak Hadirkan Lili Pintauli Siregar di Persidangan

Aktivis Indonesian Corruption Watch (ICW), Kurnia Ramadhana saat berkunjung ke kantor KPK, di Jakarta, Kamis (10/1). (Intan Piliang/Dok.JawaPos.com)

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Indonesia Corruption Watch (ICW) mendesak agar Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Lili Pintauli Siregar dihadirkan sebagai saksi dalam persidangan kasus dugaan suap penanganan perkara Kota Tanjungbalai, yang menjerat mantan penyidik KPK Stepanus Robin Pattuju. Kehadiran Lili perlu untuk mengklarifikasi, karena namanya disebut-sebut dalam fakta persidangan.

“ICW mendorong agar Komisioner KPK, Lili Pintauli Siregar, dihadirkan sebagai saksi di persidangan suap terkait penanganan perkara di Tanjung Balai. Sebab, namanya sudah berulang kali disebut-sebut oleh sejumlah pihak, misalnya, mantan Walikota Tanjungbalai, Syahrial, mantan penyidik KPK Robin dan mantan Sekretaris Daerah Tanjungbalai, Yusmada,” kata peneliti ICW, Kurnia Ramadhana dalam keterangannya, Rabu (13/10).

Kurnia menegaskan, hal ini penting dilakukan untuk semakin memperjelas peran-peran Lili dalam sengkarut perkara tersebut. KPK juga diminta mendalami peran Lili dalam sengkarut rasuah tersebut.

“Selain itu, KPK juga harus segera menerbitkan surat perintah penyelidikan guna melihat apakah ada dugaan tindak pidana – selain pelanggaran UU KPK – dibalik komunikasi antara Lili dan Syahrial,” pinta Kurnia.

Menurut Kurnia, komunikasi Lili dengan Syahrial ini semakin menandakan bahwa integritas Pimpinan KPK sudah berada pada level darurat stadium empat. Sebab, tidak hanya Lili, namun Firli Bahuri yang notabene menjabat sebagai Ketua KPK juga terbukti dua kali melanggar kode etik.

“Semestinya Dewan Pengawas malu dengan putusannya, karena menghukum ringan tindakan Lili. Bagi ICW, hukuman yang layak bagi pelanggar etik tersebut adalah merekomendasikan agar ia mengundurkan diri dan hengkang dari KPK,” tegas Kurnia.

Dalam persidangan pada Senin (11/10) kemarin, mantan Wali Kota Tanjungbalai Muhammad Syahrial mengaku berkomunukasi dengan Wakil Ketua KPK Lili Pintauli Siregar terkait penanganan perkara. Bahkan Lili saat itu, mengungkapkan kode ‘banyak berdoa’ kepada Syahrial.

“Saya pernah minta tolong, tapi saat itu saya belum pernah bicara, beliau (Lili Pintauli) yang menyampaikan ada masalah di KPK, terus saya katakan ‘itu kasus lama Bu, tahun 2019’, kemudian dijawab ‘banyak-banyak berdoalah’,” kata Syahrial saat bersaksi melalui konferensi video dari Rumah Tahanan Kelas I Medan, dalam sidang yang digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Lantas Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK Lie Putra Setiawan membacakan berita acara pemeriksaan (BAP) Syahrial. Dalam BAP Nomor 41, komunikasi antara Syahrial dengan Lili terjadi pada Juli 2020.

“Setelah itu saya tidak komunikasi lagi dengan Bu Lili baru komunikasi Juli 2020, saat saya sedang keluar tiga hari untuk jemaah tabligh. Saya sedang cuti Pilkada, Bu Lili menyampaikan ada nama saya di berkas di mejanya, saya sampaikan itu perkara lama dari 2019, Bu Lili samapikan agar saya banyak-banyak berdoa dan memohon petunjuk, kemudian saya sampaikan mohon dibantu, Bu Lili bilang tidak bisa dibantu sudah keputusan pimpinan lalu saya mengiyakan, benar?,” tanya Jaksa KPK Lie Putra.

Mendengar BAP tersebut, Syahrial tidak membantahnya. Dia mengamini isi percakapannya dengan Lili.

“Benar,” singkat Syahrial.

Dia pun mengaku diarahkan Lili untuk menghubungi seseorang bernama Arief Aceh untuk menangani perkara yang menjeratnya di KPK. “Saya mohon petunjuk kepada Bu lili akhirnya dikasih nama Arief Aceh,” ungkap Syahrial.

Menurut Syahrial, Arief Aceh merupakan seorang pengacara yang disarankan Lili. Tetapi sampai akhirnya, Syahrial meminta bantuan kepada Stepanus Robin Pattuju yang saat itu menjabat sebagai penyidik KPK.

“Saya sampaikan ke Pak Robin, siapa bang Arief aceh, kata Bang Robin itu pemain, ‘terserah apa mau milih saya atau Arif Aceh’, akhirnya saya putuskan ke Pak Robin,” pungkas Syahrial.

Dalam perkaranya, Stepanus Robin Pattuju didakwa menerima uang senilai Rp 11.025.077.000 dan USD 36 ribu. Suap tersebut berkaitan dengan penanganan perkara di KPK.

Robin didakwa melanggar Pasal Pasal 12 huruf a jo Pasal 18 UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 dan Pasal 65 ayat (1) KUHP dan Pasal 11 jo Pasal 18 UU Tipikor jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 dan Pasal 65 ayat (1) KUHP. (jpg/fajar)

Bagikan berita ini:
8
6
1
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar