Bunglon Ngaku Anjing Penjaga

  • Bagikan

#TaliJiwo Sudjiwo Tedjo

Lain kali kalau bikin kepanitiaan kelompencapir mbok yang pas. Kelompencapir, singkatan dari kelompok pendengar, pembaca, dan pemirsa, disaksikan banyak orang. Ini ngetop banget di zaman Pak Harto, istilah yang dipinjam lagi untuk kegiatan RT/RW Sastro-Jendro.

TUJUANNYA membicarakan segala sesuatu yang tak akan pernah selesai. Misalnya, apakah ngantuk itu seperti ketemu jodoh? Ngantuk tak bisa direncanakan. Apakah pertanyaan ”kapan nikah” bagi penyandang front pembela insomnia yang makin meluas sejatinya sami mawon dengan ”kapan kamu ngantuk”?

Segala sesuatu yang tak akan pernah selesai ini mahapenting untuk dikelompencapirkan. Barangkali lebih penting ketimbang ”hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l”, yang ternyata masih bisa diselesaikan secara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Teramat penting, maka seksi konsumsi baiknya dipilih yang badannya segar. Narasumber yang datang dari jauh-jauh pas ditawari makan jadi semangat. Moderator jangan dipasrahkan ke tipe penyendiri. Sudah nyeri meriang pula. Sudah penyendiri pendiam pula. Penonton bubar. Bila tak bubar, pasti ngantuk. Bila tak menguap-nguap, pasti sok segar saja demi ndak enak sama Pak Bupati.

Begitulah pendapat Sastro. Hal yang tak akan pernah selesai terjadi di sini. Itulah perbedaan antara Sastro dan istrinya, Jendro. Jendro berpikir, tujuan kegiatan kelompencapir adalah memperbaiki warga RT/RW-nya sendiri. Orang yang kerempeng, yang tak suka buah dan sayur-mayur, kalau dijadikan seksi konsumsi pasti tergerak untuk makan buah dan sayur supaya tampak segar. Agar kalau nawari makan-minum narsum sepantas Ade Rai saat menawarkan alat-alat kebugaran, bukan jomplang seperti Pak Jokowi bila menawarkan peranti fitnes.

  • Bagikan