Kebijakan Syarat Wajib Tes PCR bagi Pelaku Perjalanan, Bukhori Duga Ada Indikasi Persaingan Bisnis

Minggu, 31 Oktober 2021 19:48
Kebijakan Syarat Wajib Tes PCR bagi Pelaku Perjalanan, Bukhori Duga Ada Indikasi Persaingan Bisnis

Ilustrasi-- Seorang peserta Swab Massal di pelataran parkir Masjid Al Markaz berusaha menahan takut ketika akan diambil sample dihidung Selasa, 29 September. (TAWAKKAL/FAJAR)

FAJAR.CO.ID, JAKARTA– Anggota Komisi VIII DPR RI Bukhori menduga ada indikasi persaingan bisnis dalam kebijakan syarat wajib tes polymerase chain reaction (PCR) bagi pelaku perjalanan. Hal itu terlihat dari menjamurnya penyedia layanan tes PCR di sejumlah tempat dengan menawarkan harga berlapis, tergantung pada kecepatan hasil tes.

Bahkan menurut Bukhori, para pebisnis tes PCR telah melanggar ketentuan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan Kementerian Kesehatan, yakni Rp 495 ribu (Pulau Jawa dan Bali) dan Rp 525 ribu (luar Pulau Jawa dan Bali) dengan dalih ‘PCR ekspres’. “Harga yang ditawarkan mulai dari Rp 650 ribu, Rp 750 ribu, Rp 900 ribu, hingga Rp 1,5 juta,” jelas Bukhori dalam keterangan tertulisnya, Minggu (31/10).

Di sisi lain ia menjelaskan, sejak bulan Maret 2020 pemerintah juga telah memberikan insentif fiskal untuk importasi jenis barang berupa alat kesehatan untuk penanganan pandemi. Adapun jenis barang yang terkait dengan mekanisme tes PCR yang memperoleh insentif kepabeanan di antaranya PCR Test Reagent, Swab, Virus Transfer Media, dan In Vitro Diagnostic Equipment.

Bagikan berita ini:
6
4
9
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar