Ada Orang Jeneponto yang “Tidak Tahu Adat”

Jumat, 26 November 2021 17:48
Ada Orang Jeneponto yang “Tidak Tahu Adat”

Khrisna Pabicara saat membawakan materi pada seminar yang digelar di Gedung Sipitangarri Bontosunggu, Jeneponto.

Oleh: Khrisna Pabicara

(Budayawan dan Penggiat Literasi)

Apakah judul bacot ini terlalu keras? Tidak. Judul di atas masih amat lembut. Kalau mau lebih keras, saya akan pakai kata “banyak”. Maka, judulnya akan berubah menjadi “Banyak Orang Jeneponto yang ‘Tidak Tahu Adat'”. Itu baru keras, malahan kasar.

Apa pasal sehingga saya berpendapat demikian? Tenang dulu, Saribattang. Tentu tidak akan ada asap apabila tidak ada api. Lalu, apa gerangan apinya sehingga “lidah” saya berasap? Baiklah. Mari kita sisir pelan-pelan.

Banyak orang Jeneponto yang meyakini bahwa orang Jeneponto itu “lompo adak” (amat peduli adat), tetapi tidak sedikit di antara mereka-yang-banyak-itu sebenarnya tidak tahu adat apa yang mereka besar-besarkan atau pedulikan.

Tidak usah jauh-jauh, ambil contoh urusan tingkap (tongkosila) rumah saja. Tidak banyak sekarang yang tahu bahwa rumah tanpa tingkap menunjukkan bahwa pemilik rumah berasal dari kalangan ata; satu tingkap berarti tusamarak atau tumaradeka; dua tingkap berarti daeng; tiga tingkap berarti karaeng sossorang (karaeng yang hanya satu pihak orangtuanya berdarah karaeng); empat tingkap berarti karaeng puli (karaeng yang kedua orangtuanya sama-sama karaeng, tetapi tidak menduduki jabatan tertentu); lima tingkap berarti karaeng paempo (karaeng puli yang punya kedudukan); enam tingkap berarti karaeng tiknok (karaeng puli yang anak raja); dan tujuh tingkap berarti karaeng lompo (karaeng puli yang menjadi raja).

Bagikan berita ini:
8
4
5
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar