Aung San Suu Kyi Divonis Penjara, PBB Kecam Keras Junta Militer Myanmar

  • Bagikan

FAJAR.CO.ID — Reaksi dan kecaman mengalir deras kepada militer Myanmar. Pelaku kudeta sejak 1 Februari lalu itu telah menggelar pengadilan untuk Aung San Suu Kyi.

Pemimpin demokrasi Myanmar tersebut dijatuhi vonis 4 tahun penjara yang kemudian dipotong menjadi 2 tahun penjara. Namun, banyak pihak meragukan proses persidangan yang berlangsung serba tertutup itu.

“Ini bermotif politik,” ujar Kepala Lembaga HAM PBB Michelle Bachelet, Senin (6/12). Selama ini, proses peradilan dilakukan secara diam-diam dan di bawah kontrol militer. Media tidak diperbolehkan meliput langsung proses peradilan Suu Kyi.

Bachelet bukan satu-satunya orang yang geram dengan tindakan junta militer Myanmar. Kritik serupa dilontarkan Menteri Luar Negeri Inggris Liz Truss. Dia meminta agar junta militer Myanmar segera membebaskan para tahanan politik.

Sudah saatnya ada dialog untuk memungkinkan kembalinya demokrasi ke negara yang dulu bernama Burma tersebut. Penahanan sewenang-wenang itu hanya berisiko menimbulkan kerusuhan lebih lanjut.

”Hukuman yang dijatuhkan kepada Aung San Suu Kyi adalah upaya mengerikan lain yang dilakukan rezim militer Myanmar untuk melumpuhkan oposisi serta menekan kebebasan dan demokrasi,” tegas Truss seperti dikutip Agence France-Presse.

Juru Bicara Junta Militer Myanmar Zaw Min Tun menjelaskan bahwa Suu Kyi dijatuhi hukuman 2 tahun penjara karena melakukan penghasutan terhadap militer. Itu karena partai NLD membuat pernyataan mengecam para jenderal pascakudeta. Vonis 2 tahun penjara lainnya terkait pelanggaran aturan Covid-19 di bawah Undang-Undang (UU) Bencana Alam. Dakwaan kedua itu terkait dengan pemilu tahun lalu. Saat itu NLD menang besar.

  • Bagikan