Cerita Perjuangan Seorang Ibu Mengais Rezeki di Saat Masa Pandemi

  • Bagikan

MAKASSAR – Tak lupa dengan aturan prokes, senyumannya yang tak lagi nampak dalam balutan masker warna hitam, dengan kaos bermotif warna warni. Suara sapa dan tawanya terdengar tak asing lagi bagi pelanggan setianya, itulah mba Narti sapaan akrabnya.

Seorang pedagang es jeruk peras keliling saat ditemui di depan Taman Olahraga Pakui Sayang, Senin (13/12/2021). Taman yang terletak di pusat kota Makassar, tepatnya Jalan Andi Pangerang Pettarani.

Nama Taman Pakui Sayang, merupakan akronim yang terdiri atas Pray (doa), Attitude (perilaku), Knowledge (pengetahuan), Ulet dan Impian. Sementara Sayang itu merupakan istilah yang menunjukkan perasaan yang lebih dalam dari cinta.

Narti (43) yang menjajakan es jeruk peras itu terlihat tersenyum, dan menawarkan es jeruk peras yang ia jual. “Iya mas mau beli es jeruk peras?, harganya Rp 5.000,” kata Narti.

Sejak siang menjelang magrib ia berjualan es jeruk peras di gerobak yang menjadi lumbung rejekinya sehari-hari. Sudah sekitar 4 (empat) tahun sudah, wanita ini menggeluti pekerjaannya, sumber penghasilan jualan mampu menghidupi keluarga kecilnya dan menyekolahkan anaknya dari hasil usahanya itu.

Narti dengan tiga anak ini bersama suaminya datang ke Makassar 2006 silam. Dia pun mulai beradaptasi dengan kerasnya kehidupan di perantauan. Berbagai pekerjaan telah pernah ia geleguti, sebelum memutuskan berjualan es jeruk peras hingga saat ini.

  • Bagikan