Sopir Transjakarta yang Tabrak Pejalan Kaki Tak Jadi Tersangka, Polisi Sebut Tidak Cukup Unsur

  • Bagikan
Petugas saat mencoba mengevakuasi bus TransJakarta yang menabrak separator di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Jumat (3/12/2021). Menurut petugas penyebab kecelakaan bus TransJakarta bernomor polisi B 7277 TGC itu diduga akibat sopir yang kurang konsentrasi saat mengemudi. Foto: Dery Ridwansah/ JawaPos.com

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Penyidik Ditlantas Polda Metro Jaya telah merampungkan gelar perkara kasus Bus TransJakarta yang menabrak pejalan kaki di Jalan Raya Taman Margasatwa Raya, Jakarta Selatan.

Hasilnya, pengemudi mobil berinisial YH tidak ditetapkan sebagai tersangka. Hal itu diungkap Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP Argo Wiyono.

“Sopir atas nama YH tidak cukup unsur untuk dijadikan tersangka yang melanggar Pasal 310 Ayat 4,” kata Argo, Selasa (14/12) malam.

Perwira menengah Polri itu mengatakan berdasar pemeriksaan CCTV dan olah TKP di lokasi kejadian, tampak jarak antara korban dengan Bus TransJakarta sangat dekat, sehingga tidak cukup melakukan pengereman.

Artinya, kata dia, jarak empat meter dengan kecepatan 30 KM perjam itu pengemudi tidak bisa melakukan pengereman.

“Jadi, minimal jarak pengereman 14 meter dengan kondisi jalan basah, kalau kering 10 meter,” kata Argo.

Alasan lain, tidak ada ruang gerak di jalur busway yang membuat sopir tak bisa menghindar ketika korban RH muncul secara tiba-tiba saat menyeberang.

“Si jalur busway itu tidak ada ruang gerak. Artinya si sopir tidak bisa ke kiri atau ke kanan. Ke kiri nabrak separator mungkin fatalitas lebih tinggi, kalau ke kanan nabrak pembatas,” kata Argo.

Ketiga, lanjut dia, dari sisi korban justru dinilai melanggar Pasal 172 ayat 1 bahwa seorang pejalan kaki yang menyebrang itu harus menggunakan tempat penyeberangan. Padahal, kalau tidak ada jembatan penyeberangan, tiap pejalan kaki harus menyebrang di tempat yang memang disediakan seperti zebra cross.

  • Bagikan