Studi Kasus Revenge Porn, “Cyberbullying” Berkedok Demi Cinta

  • Bagikan

Oleh: Julia Ressi I. Y, Iwan Aslich, Khasbullah N. Zakin, Athea M. Arham

Mahasiswa Informatika Universitas Siber Asia

Demi alasan cinta orang rela melakukan apa saja. Cinta bisa begitu membutakan. Cinta bisa memaksa orang untuk melakukan apapun untuk mempertahankannya. Namun terkadang, cinta pula yang membawa malapetaka. Tanyakanlah kepada korban revenge porn yang jumlah kian bertambah di Indonesia. Mereka tidak lagi merasakan esensi sebuah cinta yang indah dan rela melakukan apa saja demi mempertahankannya. Bagi mereka, cinta tak lebih dari sebuah mimpi buruk yang berakhir menjadi kenyataan. Tak hanya fisik, namun mental mereka pun terganggu karenanya. Tidak main-main, pada beberapa korban, mereka malah berniat untuk melakukan bunuh diri.

Revenge Porn atau balas dendam porno adalah bentuk kekerasan seksual. Biasanya dengan paksaan atau ancaman terhadap seseorang, umumnya perempuan, untuk menyebarkan konten asusila melalui dunia maya. Bentuknya bisa berupa Rekaman suara, foto atau video yang dibuat oleh pasangan yang biasanya memiliki hubungan intim dengan pengetahuan atau persetujuan orang tersebut, atau dapat dibuat tanpa sepengetahuannya. Hubungan cinta apabila berakhir dan tidak ditanggapi dengan akal sehat menjadikan pelakunya berbuat hal yang tidak wajar, salah satunya revenge porn.

Revenge Porn biasanya dialami oleh perempuan. Hal tersebut terjadi karena adanya relasi yang timpang dalam sebuah hubungan, perempuan masih dan sering dijadikan objek. Biasanya, pihak perempuan dijanjikan banyak hal, diimingi-imingi sesuatu, serta ungkapan persuasif namun memaksa perempuan untuk mengikuti apa kata pasangan mereka. Tindakan Revenge Porn bertujuan untuk mempermalukan, mengucilkan dan menghancurkan hidup korban. Pelaku bisa saja pacar, mantan pacar yang ingin kembali atau tidak terima karena hubungan kandas.

  • Bagikan