Menko Luhut Sebut Utang RI Dinikmati Rakyat, Faizal Assegaf: Faktanya Nol Besar

  • Bagikan
Kritikus politik Faizal Assegaf

FAJAR.CO.ID, JAKARTA-- Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan saat ini utang pemerintah masih terkendali.

Menurut Luhut, utang pemerintah saat ini digunakan untuk membiayai sektor produktif. Misalnya pembangunan proyek strategis nasional yang langsung dinikmati rakyat.

Pernyataan Menko Luhut itu pun langsung ditanggapi oleh krtikus Faizal Assegaf di akun Twitternya @faizalassegaf, Rabu malam (15/12/2021).

"Ah anda norak & kampungan! Sok paling berkuasa & nyerocos seenaknya! Isinya gombal!," tulis Faizal Assegaf.

Dia pun menantang Luhut untuk berdebat dengan Wakil ketua Umum MUI, anwar abbas soal kondisi utang luar negeri Indonesia.

"Sgr temui Waketum MUI, pak anwar abbas, beri penjelasan rinci & transparan soal utang LN," sebutnya.

"Saya jamin anda ga punya nyali, beraninya cuma asbun di media & merasa paling hebat, faktanya nol besar!," sambung Faizal.

Sebelumnya, Menko Luhut menyatakan hingga akhir Oktober 2021, total utang pemerintah mencapai Rp 6.687,28 triliun, meningkat meningkat Rp 809,57 triliun dari posisi September 2020. Utang ini setara dengan 39,69 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Namun, menurut Luhut, selama rasio utang pemerintah terhadap PDB masih belum mencapai 60 persen, utang tersebut masih terkendali. Selain itu, utang yang digunakan untuk proyek strategis juga dilakukan oleh negara lain.

"Jadi jangan rakyat kita dibodohi tentang utang Rp 6.000 triliun, kalau Rp 6.000 triliun itu bisa produktif, bisa membangun, kemudian rakyat menikmatinya, dan kita bisa kembalikan, kenapa jadi masalah?" ujar Luhut dalam acara Bisnis Indonesia Business Challenges - Arah Bisnis 2022: Momentum Kebangkitan Ekonomi, Rabu (15/12/2021).

Dia pun menegaskan, masyarakat perlu disosialisasikan lebih lanjut perihal data-data tersebut.

"Lihatlah dengan jernih, kritiklah pemerintah dengan data-data dan didik masyarakat kita untuk paham dengan data-data juga. Jangan kita membuat berita-berita yang tidak penting," pungkasnya. (msn/fajar)

  • Bagikan