Punya Utang Rp16 Triliun ke Pertamina, Kondisi Garuda Mirip Surat Kabar

  • Bagikan
Ilustrasi Garuda Indonesia

Sore-sore berhitung. Ada pemasukan berapa. Lalu berapa yang bisa disisihkan untuk beli BBM eceran. Untuk keperluan besok. Berapa pesawat yang akan terbang disesuaikan dengan berapa uang untuk BBM eceran hari itu.

“Itu mirip cara percetakan menyikapi utang penerbit surat kabar. Penerbit tidak tiap hari membayar ongkos cetak. Tunggu tagihan satu bulan. Kalau pun belum bisa bayar koran harus tetap terbit setiap hari. Utang ke percetakan pun menumpuk. Kian sulit ditagih,” jelas mantan bos Jawa Pos ini.

Dahlan menyebut langkah Pertamina dalam meniru gaya percetakan surat kabar sudah tepat.

“Tak disangka perusahaan sebesar Pertamina kini harus ikut cara percetakan kecil. Apa boleh buat. Memang harus begitu, mestinya sejak dulu-dulu. Cara itu justru akan bisa memaksa Garuda lebih sehat-kalau saja tidak terlambat,” katanya.

Dikatakan Dahlan, sebenarnya Pertamina memang bisa “membantu” menyehatkan Garuda secara tidak langsung. Dengan cara Pertamina bersikap keras seperti itu. Sejak dulu. Agar Garuda bisa sehat. Terpaksa sehat. Dan lagi, Pertamina pun tidak sampai punya tagihan segajah itu.

“Dalam kasus percetakan kecil, utang itu bisa menumpuk karena ini: percetakan itu dan koran itu berada dalam satu grup. Setiap kali manajemen percetakan berlaku keras, manajemen koran mengadu ke big boss di grup itu,” imbuhnya.

“Sang bos biasanya membela manajemen koran. Setiap kali percetakan mengancam-tidak mau mencetak selalu ditelepon sang bos: harus tetap dicetak,” tambahnya.

Dalam hal koran seperti itu yang harus bertanggung jawab jelas: si bos itu sendiri. Yang tak lain juga pemegang saham di percetakan itu.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan