Apakah Boleh Merayakan Hari Ibu untuk Umat Muslim?

  • Bagikan

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Tiap tanggal 22 Desember selalu diperingati sebagai hari ibu. Sejarah hari ibu di Indonesia menjadi wujud perjuangan emansipasi wanita di negeri ini.

Lalu, bagaimana hukum mengucapkan hari ibu menurut kacamata islam? Berikut rangkumannya menurut dai kondang Buya Yahya dalam kanal Youtubenya Al-Bahjah TV dilansir pada Jumat (24/12/2021).

Buya Yahya sempat mengulas apakah boleh merayakan hari ibu untuk umat muslim.

Menurut Buya Yahya istilah hari ibu sebenarnya adalah sesuatu yang tidak perlu dalam Islam. Apalagi hanya dirayakan sekali dalam setahun.

Pasalnya sosok Ibu yang notabene adalah perempuan pada dasarnya telah dimuliakan oleh Islam. Alhasil seorang perempuan tidak membutuhkan emansipasi untuk mengangkat derajatnya.عَامَيْنِ أَنِ ٱشْكُرْ لِى وَلِوَٰلِدَيْكَ إِلَىَّ ٱلْمَصِيرُ

Wa waṣṣainal-insāna biwālidaīh, ḥamalat-hu ummuhụ wahnan ‘alā wahniw wa fiṣāluhụ fī ‘āmaini anisykur lī wa liwālidaīk, ilayyal-maṣīr Terjemah

Artinya: “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”.

Berbakti kepada orang tua merupakan salah satu perbuatan yang akan diganjar oleh Allah swt dengan ganjaran yang sangat besar.

Hal ini terlihat dibeberapa dalil dimana Allah swt dalam Al Quran memerintahkan seseorang berbakti kepada kedua orangtuanya setelah memerintahkannya untuk menyembah Allah swt dan mentauhidkannya.

  • Bagikan