Kaliadem dan Titik Gempa Bantul

  • Bagikan

Saya membayangkan bagaimana paniknya suasana pada 26 Oktober 2010 di tempat itu, ketika sebagian warga tengah menunaikan salat magrib dan terdengar sirine tanda bahaya meraung-raung. Juga teriakan agar warga segera menyelamatkan diri menuju tempat evakuasi. Hanya berjeda 30 menit, awan vulkanik yang teramat panas bergulung-gulung menyapu desa tersebut. Ada 39 warga, termasuk Mbah Marijan ditemukan tewas.

Saya memandangi sebuah makam hitam, sebagai tanda di situlah Mbah Marijan ditemukan dalam keadaan bersujud. Melihat petilasan itu, saya seakan melihat tentang kesetiaan dan kepatuhan menjalankan tanggung jawab dari Mbah Marijan. Tak jauh dari tempat tersebut terdapat sebuah bangkai mobil yang digunakan untuk mengevakuasi warga ketika itu.

Berdasarkan cerita Febri, anggota Jeep Merapi yang menemani kami, ketika terdengar bunyi sirene, dua relawan PMI dan seorang wartawan berusaha mengangkut warga untuk dibawa ke tempat evakuasi. Setelah menurunkan warga, mobil tersebut balik lagi untuk menjemput Mbah Marijan menembus gelap dan suara gemuruh. Tiba di rumah Mbah Marijan, awan panas pun tiba. Mobil dan relawan itu pun tersapu awan panas. Keduanya meninggal. Melihat bangkai mobil itu, saya membayangkan rasa kemanusiaan yang begitu tinggi dari dua relawan PMI yang tewas.

Sebetulnya saya agak berdebar juga melakukan perjalanan ini. Merapi yang tingginya 2986 meter di atas permukaan laut, yang oleh penjelajah spritual disebutkan sebagai panglimanya gunung vulkanik di Nusantara itu, dikabarkan tengah level tiga. Sudah ada letupan kecil berkali-kali di sisi utara. Tapi saya melihat penduduk masih tenang-tenang saja beraktivitas. Normal-normal saja. Tapi, bukankah ketika abu vulkanik akan menerjang desa Mbah Marijan, warga kelihatan tenang-tenang saja?

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan