Kaliadem dan Titik Gempa Bantul

  • Bagikan

Relawan yang memilih masuk ke bak mandi, dalam keadaan panik mungkin berpikir akan terbantu dengan air. Padahal ketika lava panas menangkupi permukaan bunker, air di bak mandi akan mendidih. Sejenak saya melongok ke kamar mandi itu. Terbayang tentang semangat untuk membantu sesama, mengingatkan untuk segera menyelamatkan diri, meskipun pada akhirnya kedua relawan itu tidak selamat.

Titik Gempa Bantul

Dini hari sebelum subuh, 14 Desember, kami melintasi Bantul, salah satu kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta. Kami melintas mulus di Jalan Parangtritis. Driver yang mengantar kami, Gilang, mengatakan bahwa sebentar dia akan membawa kami ke titik gempa Bantul. Seketika kantuk kami buyar. Titik gempa?

Setelah sekian lama senyap, menembus subuh, sang driver kemudian bersuara, “Kita saat ini berada di kawasan titik gempa Bantul 2006,” ucapnya enteng.

Deg!

Dia memperlambat laju kendaraannya. Menunjukkan kiri-kanan bangunan yang dulunya berantakan dan rata dengan tanah. Ada perasaan ngeri. Peristiwa itu terjadi 27 Mei 2006. Gempa dengan kekuatan 5,1 SR. Pusatnya di sekitar tempat kami sekarang. Agak berdebar juga.

Jumlah korban meninggal dalam durasi gempa 57 detik itu, berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah Bantul, mencapai 4.143 jiwa. Rumah yang rusak 71.763 unit.

Gilang menceritakan pengalamannya ketika itu. Ketika gempa dia berada di dekat alut-alun Yogya tengah menunggangi sepeda motor. Dia melihat jalanan yang dilaluinya bergetar dan bergelombang. Dia terjatuh.

“Kami teramat panik ketika itu. Kacau sekali. Warga Bantul segera berlari menyelamatkan diri ke arah keraton Yogyakarta. Bagi kami kawasan keraton adalah yang paling aman,” ucapnya.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan