Kaliadem dan Titik Gempa Bantul

  • Bagikan

Oleh: Nur Alim Djalil

Erupsi Merapi dan Gempa Yogyakarta masih lekat dalam ingatan. Pada 2006, Daerah Istimewa Yogyakarta dilanda kepanikan: Merapi meletup-letup di utara dan Bantul dilanda gempa di selatan. Warga dari arah gunung, turun dan masuk ke kota bersamaan karena bingung dan panik. Sementara di selatan, warga dari arah pantai juga masuk ke kota menyelamatkan diri. Pusat kota Yogyakarta bertumpuk warga yang menyelamatkan diri.

Empat tahun kemudian, 2010,  Merapi meletus lagi. Salah satu yang jadi korban dan dikenang sampai sekarang adalah jurukunci, Mbah Marijan. Ketika itu awan dan debu panas sudah mulai menggulung desanya dan Mbah Marijan masih bertahan. Menurut saksi mata, dia bertahan dan menyelesaikan salat magribnya.

Sisa dan cerita mengenai ketiga bencana besar itu, coba saya lihat dari dekat dengan mengunjungi desa terdekat Merapi, Kinahrejo yang terdapat bekas rumah dan letak jenazah Mbah Marijan, kemudian ke Dusun Kaliadem melihat bunker persembunyian dua relawan yang kemudian ditemukan  tewas. Keesokan harinya, kami melanjutkan perjalanan ke titik gempa Bantul. Dari ketiga peristiwa tersebut, saya membayangkan betapa kecil dan lemahnya kita sebagai manusia.

Perjalanan dengan mengendarai Jeep Merapi kami mulai ke arah Desa Kinahrejo, Kecamatan Cangkringan, Sleman, pertengahan Desember 2021. Embusan angin agak basah. Panas tapi semilir. Kami tiba di kawasan petilasan Mbah Marijan. Tempat tersebut saat ini sangat tertata.

Masyarakat setempat dengan cepat bangkit dan mengubah kawasan itu menjadi produktif, yakni tempat wisata. Rumah Mbah Marijan dan keluarganya dijadikan museum untuk mengenang peristiwa 2010. Bangkai mobil, motor, perabotan rumah tangga, alat kesenian, belulang ternak dikumpulkan kemudian dipajang.

Saya membayangkan bagaimana paniknya suasana pada 26 Oktober 2010 di tempat itu, ketika sebagian warga tengah menunaikan salat magrib dan terdengar sirine tanda bahaya meraung-raung. Juga teriakan agar warga segera menyelamatkan diri menuju tempat evakuasi. Hanya berjeda 30 menit, awan vulkanik yang teramat panas bergulung-gulung menyapu desa tersebut. Ada 39 warga, termasuk Mbah Marijan ditemukan tewas.

Saya memandangi sebuah makam hitam, sebagai tanda di situlah Mbah Marijan ditemukan dalam keadaan bersujud. Melihat petilasan itu, saya seakan melihat tentang kesetiaan dan kepatuhan menjalankan tanggung jawab dari Mbah Marijan. Tak jauh dari tempat tersebut terdapat sebuah bangkai mobil yang digunakan untuk mengevakuasi warga ketika itu.

Berdasarkan cerita Febri, anggota Jeep Merapi yang menemani kami, ketika terdengar bunyi sirene, dua relawan PMI dan seorang wartawan berusaha mengangkut warga untuk dibawa ke tempat evakuasi. Setelah menurunkan warga, mobil tersebut balik lagi untuk menjemput Mbah Marijan menembus gelap dan suara gemuruh. Tiba di rumah Mbah Marijan, awan panas pun tiba. Mobil dan relawan itu pun tersapu awan panas. Keduanya meninggal. Melihat bangkai mobil itu, saya membayangkan rasa kemanusiaan yang begitu tinggi dari dua relawan PMI yang tewas.

Sebetulnya saya agak berdebar juga melakukan perjalanan ini. Merapi yang tingginya 2986 meter di atas permukaan laut, yang oleh penjelajah spritual disebutkan sebagai panglimanya gunung vulkanik di Nusantara itu, dikabarkan tengah level tiga. Sudah ada letupan kecil berkali-kali di sisi utara. Tapi saya melihat penduduk masih tenang-tenang saja beraktivitas. Normal-normal saja. Tapi, bukankah ketika abu vulkanik akan menerjang desa Mbah Marijan, warga kelihatan tenang-tenang saja?

Perjalanan kami lanjutkan ke Dusun Kaliadem, Kecamatan Cangkringan untuk melihat Bunker Kaliadem di kaki Merapi. Ini tentang bencana Merapi, empat tahun sebelumnya, 2006, khususnya kisah dua relawan yang memilih bersembunyi di bunker ketika Merapi mulai erupsi.

Sepanjang jalan menuju bunker, masih terdapat beberapa bangunan akibat bencana. Sebagian ditinggalkan pemiliknya. Dindingnya penuh lumut. Boleh jadi satu kaluarga sudah meninggal dunia. Namun tidak sedikit bangunan baru. Tidak ada bekas pernah tertimbun awan dan lava panas.

Bunker tersebut dibangun pada 2001 untuk melindungi warga dari awan panas. Setahun setelah diresmikian, 16 Juni 2006, Merapi erupsi. Para relawan berteriak menghalau penduduk agar segera menyelamatkan diri. Tak satu pun penduduk memilih masuk bunker. Penduduk terus berlari melewati jalur evakuasi mencari posisi aman.  Kedua relawan tersebut memilih bergegas masuk ke dalam bunker menyelamatkan diri. Namun sayang, bukan awan panas yang meluncur dari Merapi namun lava panas setebal tiga meter. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan kedua relawan itu di dalam bunker -- yang sebagian konstruksinya terbuat dari baja.

Bila melihat luasnya, bunker itu dapat menampung 40 orang. Terdapat satu kamar mandi di sisi kiri pintu masuk dan bilik kecil untuk menyimpan cadangan makanan di sisi kanan. Konstruksi bunker itu lumayan kukuh. Sebagian terbuat dari baja.

            Butuh tiga hari dengan menggunakan ekskavator untuk menggali bunker tersebut. Lapisan lava yang sudah mengeras menutupi permukaan lubang dan permukaan bunker tersebut setinggi tiga meter. Kedua relawan ditemukan tewas dengan sekujur tubuh melepuh hingga organ dalam. Satu ditemukan di tengah bunker, satu di bak mandi.

Relawan yang memilih masuk ke bak mandi, dalam keadaan panik mungkin berpikir akan terbantu dengan air. Padahal ketika lava panas menangkupi permukaan bunker, air di bak mandi akan mendidih. Sejenak saya melongok ke kamar mandi itu. Terbayang tentang semangat untuk membantu sesama, mengingatkan untuk segera menyelamatkan diri, meskipun pada akhirnya kedua relawan itu tidak selamat.

Titik Gempa Bantul

Dini hari sebelum subuh, 14 Desember, kami melintasi Bantul, salah satu kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta. Kami melintas mulus di Jalan Parangtritis. Driver yang mengantar kami, Gilang, mengatakan bahwa sebentar dia akan membawa kami ke titik gempa Bantul. Seketika kantuk kami buyar. Titik gempa?

Setelah sekian lama senyap, menembus subuh, sang driver kemudian bersuara, “Kita saat ini berada di kawasan titik gempa Bantul 2006,” ucapnya enteng.

Deg!

Dia memperlambat laju kendaraannya. Menunjukkan kiri-kanan bangunan yang dulunya berantakan dan rata dengan tanah. Ada perasaan ngeri. Peristiwa itu terjadi 27 Mei 2006. Gempa dengan kekuatan 5,1 SR. Pusatnya di sekitar tempat kami sekarang. Agak berdebar juga.

Jumlah korban meninggal dalam durasi gempa 57 detik itu, berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah Bantul, mencapai 4.143 jiwa. Rumah yang rusak 71.763 unit.

Gilang menceritakan pengalamannya ketika itu. Ketika gempa dia berada di dekat alut-alun Yogya tengah menunggangi sepeda motor. Dia melihat jalanan yang dilaluinya bergetar dan bergelombang. Dia terjatuh.

“Kami teramat panik ketika itu. Kacau sekali. Warga Bantul segera berlari menyelamatkan diri ke arah keraton Yogyakarta. Bagi kami kawasan keraton adalah yang paling aman,” ucapnya.

Usai gempa beredar kabar, akan datang tsunami. Masyarakat panik dan terus berlari ke arah kota Yogyakarta. Getaran gempa tentu dirasakan juga oleh warga di bagian utara, yakni kawasan Merapi. Warga mengira getaran itu pertanda Merapi akan meletus. Terlebih sebelumnya gunung itu sering meletup kecil. Maka warga dari kawasan Merapi pun bergegas masuk ke Yogya.

Yogyakarta bertumpuk pengungsi. Riuh-rendah. Apa yang terjadi kemudian, kawanan penjarah beraksi. Ternak-ternak di kaki Merapi diangkut sepenuh truk. Sapi dan kambing disikat. Demikian pula di Bantul, rumah-rumah dijarah. Sebagian warga apes dua kali. Sudah tertimpa gempa, dijarah pula.

Warga kemudian tersadar, kata Gilang, mereka panik dan termakan isu tsunami. Bantul adalah wilayah yang terbentengi bukit. Maka bila ada gelombang tsunami dari arah Laut Selatan, kecil kemungkinan sampai ke Bantul.  

Kami meninggalkan kawasan itu dengan kendaraan yang melaju. Membayangkannya saja sudah sangat ngeri. Kami mengejar azan subuh. Ingin segera bersujud kepada-Nya. Benar, tidak sejengkal tanah pun di permukaan bumi ini yang aman dari bencana. (*)

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan