Kemendikbudristek Diminta Fokus Peningkatan Pembelajaran di Kawasan Termarjinalkan

  • Bagikan

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Masa berakhirnya tahun 2021 hanya tinggal menunggu hitungan jam. Semua pihak pun sudah mulai mempersiapkan resolusi atau apa yang hendak dicapai pada 2022 mendatang, termasuk untuk bidang pendidikan.

Pengamat Pendidikan Universitas Paramadina Totok Amin Soefijanto pun memberikan masukan, terlebih kepada Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) sebagai salah satu stakeholder pendidikan di Indonesia. Salah satunya adalah lebih fokus pada penanganan peningkatan pembelajaran di kawasan yang termarjinalkan, misalnya wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal). Sebab, mereka mengalami dampak negatif yang sangat besar akibat pandemi Covid-19.

“Jadi goal-nya itu harus dibentuk, tujuan kita melaksanakan pembelajaran itu apa, kan tujuannya untuk meningkatkan kompetensi anak didik agar sesuai tantangan jaman, menyiapkan generasi penerus,” ungkap dia kepada wartawan, Kamis (30/12).

Menurutnya, semua pihak setuju bahwa pandemi ini membuat learning loss. Apalagi besarnya hal tersebut juga dipengaruhi dengan status ekonomi sosial masyarakat.

“Kalau dari keluarga kaya tidak terlalu besar, ke menengah bawah itu sangat besar,” terangnya.

Jika itu diteruskan, kemungkinan akan terjadi siklus kemiskinan di kalangan keluarga menengah ke bawah. Dengan adanya learning loss, setelah selesai sekolah, mereka akan menghadapi kendala dalam memasuki dunia kerja yang memerlukan kompetensi tinggi akibat hal tersebut.

“Tidak ada eskalator dia naik ke jenjang lebih tinggi, pemerintah harus menciptakan, dalam arti memberikan perhatian, karena mereka akan tertinggal dibanding keluarga menengah atas,” tutup Totok. (jpg/fajar)

  • Bagikan