Ekonomi Nasional Diprediksi Meningkat Sekitar 4,7 sampai 5,5 Persen pada 2022

  • Bagikan

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Pemulihan ekonomi nasional sepanjang 2021 berada di jalur positif. Di pasar modal, kenaikan harga komoditas berimbas pada lonjakan profitabilitas saham-saham produsen batu bara, sawit, dan gas. Kondisi itu akan berlanjut pada awal 2022.

Direktur Ekuator Swarna Investama Hans Kwee mengatakan, harga komoditas masih tinggi dalam enam bulan sampai setahun ke depan. Artinya, saham-saham industri perkebunan sawit, batu bara, baja, dan properti boleh dicermati sebagai daftar pantau untuk tahun ini. Seiring pemulihan ekonomi, pembangunan mulai kembali dilanjutkan.

Sentimen tersebut juga berimbas pada permintaan produk dari sektor industri dasar seperti semen, beton, dan baja.

“Kemungkinan (harga) komoditas masih akan positif di semeter I 2022. Kalaupun turun, mungkin tidak banyak,” ungkap Hans kepada Jawa Pos kemarin (4/1).

Menurut dia, pasar saham masih akan bergerak ke saham yang lebih rigid, memiliki fundamental bagus, dan valuasi menarik. Apalagi, besarnya aliran dana asing yang masuk Indonesia dipicu kenaikan harga komoditas.

Meski demikian, Hans melihat investor ritel, khususnya generasi milenial, lebih aktif bertransaksi di saham-saham berkapitalisasi kecil. Alasannya, faktor satuan harga yang dianggap murah dan volatilitas yang tinggi. Saham yang mengalami kenaikan tinggi menarik minat investor ritel untuk ikut bertransaksi.

Ditambah, kehadiran teknologi membuat informasi begitu cepat tersebar. Ketika ada yang bicara keuntungan investasi saham, banyak orang ingin ikut. “Tapi, tentu ini membawa potensi risiko di masa yang akan datang. Sebab, harga saham yang naik banyak tanpa didukung fundamental yang solid tentu berisiko turun besar,” ulasnya.

  • Bagikan