Omicron Cenderung Naik, Kebijakan PTM Perlu Dievaluasi

  • Bagikan

FAJAR.CO.ID, RADAR – Penerapan surat keputusan bersama (SKB) empat menteri terkait pendidikan tatap muka (PTM) 100 persen di tengah meningkatnya kasus persebaran Covid-19 Omicron membuat pemangku kebijakan di dunia dilematis. Meski PTM 100 persen sudah lama ditunggu-tunggu namun adanya grafik temuan varian Omicron yang terus naik, dikhawatirkan menimbulkan efek yang lebih besar.

Pakar Pendidikan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN Suka) Jogjakarta dr Khamim Zarkasih Putro menilai SKB tersebut perlu dievaluasi. “Perlu dievaluasi karena resikonya besar kalau ditemukan penyebaran semakin masif,” ungkap Khamim dihubungi Radar Jogja, Selasa (4/1).

Demi menjaga keamanan dan keselamatanan kesehatan menurutnya harus menjadi prioritas utama. Sehingga keputusan 100 persen lebih baik ditunda. Pembelajaran di sekolah tetap dilaksanakan seperti biasa atau semi daring. Dengan kapasitas siswa dalam ruangan terbatas, maksimal 50 persen.

Omicron, di beberapa negara belahan bumi barat menilai, virus ini dapat menyebar cepat dan mengkhawatirkan. Sebab, menjangkit mereka, bahkan yang sudah menjalani dua kali vaksin. Melihat perkembangan dewasa ini, menurut dia, pembelajaran efektif masih sulit dilakukan. Berdasarkan pandangannya, perlu ada kolaborasi dan koordinasi apapun kegiatannya agar dapat dilakukan secara blended atau campuran, Dia merasa teknis ini akan menjadi suatu pilihan ke depan.

Dijelaskan, yang dimaksud campuran adalah, pembelajaran digelar dengan dipadu-padankan antara luring dan daring secara bersamaan di sekolah. Pembelajaran luring hanya diikuti beberapa siswa saja. Sedang lainnya mengikuti PTM terbatas di rumah masing-masing. Nah, sistem campuran ini, sebutnya, sudah diterapkan di perguruan tinggi.

  • Bagikan