Jantung Babi

  • Bagikan

Akhirnya David mau menjalani transplant dengan jantung babi. Tidak ada pilihan lain. Sebenarnya pengantre yang parah bisa mendapat prioritas. Tapi David tidak memenuhi syarat lainnya: ia digolongkan pasien yang ceroboh. Untuk bisa mendapat prioritas, seorang pasien juga harus menunjukkan dirinya sangat peduli dengan badannya sendiri.

David tidak.

Ia pernah diketahui tidak ke dokter ketika waktunya kontrol. Ia juga pernah tidak mengambil obat ketika dokter memberinya serep. Orang yang tidak peduli pada kesehatannya, untuk apa diprioritaskan, sampai mengalahkan orang lain.

Saya ingat masa lalu. Saya pernah bikin peraturan: semua karyawan mendapat tunjangan kesehatan kecuali yang merokok.

David sudah diberi tahu bahwa transplant jantung babi itu kemungkinan gagalnya tinggi. Belum pernah ada orang bisa hidup dengan menggunakan jantung babi. Ups… Pernah. Ada. Tapi hanya bisa hidup dua hari. Di hari kedua, penerima transplant jantung babi itu meninggal. Setidaknya pernah ada.

Yang melakukan transplant “hidup dua hari” itu Prof Robert Montgomery. Ia ahli bedah jantung. Ia sendiri pernah sakit jantung, parah sekali. Ia menjalani transplant jantung dari jantung manusia.

Prof Robert terus melakukan penelitian terhadap jantung babi. Lalu mempraktikkannya. Ketika pasiennya meninggal, di hari kedua itu, Prof Robert terus membiarkan jantung babi itu berfungsi. Itu karena si pasien baru meninggal di tingkat “meninggal batang otaknya”. Banyak organ lainnya masih berfungsi. Termasuk jantung babi yang ditempatkan di luar tubuh pasien.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan