Kala Ketum PBNU Gus Yahya Merasa Dizalimi Gus Dur, Ini yang Terjadi

  • Bagikan
Abdurrahman Wahid atau Gus Dur

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf dalam buku yang ia tulis bersama AS Laksana bertajuk ‘Menghidupkan Gus Dur: Catatan Kenangan Yahya Cholil Staquf’ (2020) menyebut dirinya pernah sangat jengkel dengan Presiden keempat RI, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Kekesalan yang teramat dalam itu berawal ketika Gus Yahya tidak diizinkan Gus Dur menjadi anggota DPR mengisi posisi lowong yang ditinggalkan Alwi Shihab karena ditunjuk Presiden Gus Dur jadi Menteri Luar Negeri saat periode kepemimpinan tahun 1999-2001.

Gus Yahya waktu itu menjabat posisi Wasekjen PKB, partai yang didirikan Gus Dur. Harusnya kursi DPR yang ditinggal Alwi Shihab menjadi jatah Gus Yahya. Apa mau dikata, Gus Dur tak merestuinya.

Amarah yang berkecamuk dalam pikirannya membuatnya tak bisa berpikir jernih. Pokoknya, ia jengkel sekali dengan Gus Dur yang telah dianggapnya guru tersebut.

“Saya marah karena merasa hak saya dilanggar. Saya wakil sekjen PKB, ikut membesarkan partai, tidak boleh jadi anggota DPR yang mestinya hak saya. Rusuh sekali pikiran saya waktu itu,” aku Gus Yahya.

Secara perlahan Gus Yahya berusaha menjernihkan pikirannya dari rasa kesal karena merasa telah dizalimi Gus Dur.

Tiba-tiba saja Gus Yahya berpikir, jika semisal dirinya jadi anggota DPR, apakah sanggup menjalaninya?

  • Bagikan