Ingat Mbah Wali Gus Dur: Rahasia di Balik Pencabutan Larangan Perayaan Imlek

  • Bagikan
Presiden keempat RI KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur

FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Imlek atau tahun baru Cina adalah tradisi pergantian tahun yang dirayakan seluruh etnis Tionghoa apapun agamanya.

Masyarakat Tionghoa muslim juga turut merayakan Imlek.

Bicara soal Imlek, seketika ingatan melayang pada Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid.

Bapak Humanisme yang akrab disapa Gus Dur itu mencabut Inpres Nomor 14 tahun 1967 dengan mengeluarkan Keppres nomor 6 tahun 2000.

Lebih dari 30 tahun pemerintah Orde Baru melarang perayaan Imlek di Indonesia.

Dijadikannya Imlek sebagai hari libur tak terlepas dari kebijakan Gus Dur saat menjabat orang nomor satu di Indonesia.

Gus Dur mencabut Instruksi Presiden Soeharto yang mengharuskan masyarakat etnis Tionghoa yang merayakan pesta agama atau adat istiadat tidak mencolok di depan umum, melainkan dilakukan dalam lingkungan keluarga.

Dengan dikeluarkan Keppres nomor 6 tahun 2000, warga Tionghoa akhirnya memiliki kebebasan untuk menganut agama, kepercayaan serta adat istiadatnya.

"Mereka (masyarakat Tionghoa) adalah orang Indonesia tidak boleh dikucilkan, hanya diberi satu tempat saja. Kalau ada yang mencerca mereka tidak aktif di masyarakat, itu karena tidak diberi kesempatan," kata Gus Dur.

Kegembiraan sontak tergambar jelas dari sikap masyarakat yang saling mengucapkan Gong Xi Fa Cai kepada keluarga, kerabat teman dan handai taulan.

Gong Xi Fa Cai artinya ucapan selamat dan semoga banyak rezeki. Adat ini kemudian dibawa oleh masyarakat Tionghoa ke manapun ia merantau.

Untuk pertama kalinya Tahun Baru Imlek menjadi hari libur di Indonesia pada 24 Januari 2001,

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan