5.000 Warga Mengungsi Akibat Gempa 6,1 SR, Pemkab Pasbar Tetapkan 14 Hari Tanggap Darurat

  • Bagikan
ROBOH: Eskavator berupaya membersihkan material Masjid Raya Kajai, Nagari Kajai, Keacmatan Talamau, Pasaman Barat, kemarin (25/2). (ROHIMUDIN/PADANG EKSPRES)

FAJAR.CO.ID, PASAMAN BARAT-- Gempa berkekuatan 6,1 SR mengejutkan warga Pasaman dan Pasaman Barat (Pasbar) di Sumatera Barat.

Data sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar hingga pukul 18.00 kemarin (25/2) mencatat 7 orang meninggal dan 2 orang dinyatakan hilang. Sementara itu, ribuan warga di dua kabupaten tersebut memilih mengungsi hingga situasi aman.

Kerusakan fisik juga terlihat di sejumlah bangunan di Pasaman dan Pasbar. Ratusan rumah dan sejumlah perkantoran rusak.

Bahkan, di beberapa lokasi terjadi longsor. BPBD Pasaman menyebut sekitar 5.000 warga mengungsi di 35 titik. Saat ini petugas masih memerinci jumlah pasti warga yang mengungsi.

“Petugas gabungan dari BPBD, TNI, Polri, Basarnas, para personel organisasi maupun relawan, dan warga masih memfokuskan pada pencarian, penyelamatan, dan evakuasi serta pelayanan kepada warga terdampak,” kata Kepala Pelaksana BPBD Pasaman Alim Bazar. Dari tujuh orang meninggal, lima berasal dari Pasaman.

Kepala Pelaksana BPBD Sumbar Jumaidi menambahkan, dua orang meninggal akibat gempa tercatat di Pasbar. Lokasi yang terdampak gempa adalah Kecamatan Kinali, Talamau, dan lainnya.

Longsor terjadi di Bukit Lintang dan Nagari Malampah. Warga yang luka ringan sebanyak 50 orang dan luka berat 10 orang. Jumlah bangunan rusak berat mencapai seratusan unit.

Menyikapi gempa itu, Bupati Pasbar Hamsuardi telah menetapkan masa tanggap darurat bencana alam selama 14 hari. Terhitung kemarin sampai 10 Maret.

Para pengungsi saat ini membutuhkan bantuan. Warga Talamau, misalnya, membutuhkan tenda pengungsian (tenda barak dan tenda keluarga), terpal, tenaga kesehatan, dapur umum, makanan siap saji, air minum, selimut, tikar, dan family kit.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan