Polisi Bubarkan Ritual Kejawen di Pantai Watu Ulo, Duduk Bersila dan Sebagian Tubuh Mereka Terendam Air

  • Bagikan
DIBUBARKAN: Anggota Kelompok Trimurti dari Ngajuk yang melakukan ritual di Pantai Watu Ulo. Polisi meminta kelompok ini membubarkan diri dan segera kembali ke tempat asalnya. Polsek Ambulu for Radar Jember

FAJAR.CO.ID, JEMBER -- Belasan orang dari Nganjuk, Jawa Timur, melakukan ritual di Pantai Watu Ulo, Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, Jember, Sabtu (26/2) siang.

Aparat kepolisian telah meminta 18 orang tersebut membubarkan diri.

Lantas apa yang menjadi alasan mereka sampai jauh-jauh menggelar ritual di pesisir selatan Jember?

Kapolsek Ambulu AKP Makruf mengatakan, kelompok yang melakukan ritual ini bernama Trimurti (Kapitaya) yang dipimpin Tri Suno.
Kelompok tersebut beralamat di Dusun Takat, Desa Kampung Baru, Kecamatan Tanjungan, Nganjuk.

Aktivitas kelompok yang dikepalai pria 56 tahun tersebut merupakan kegiatan ritual yang bersifat kejawen.

“Mereka sudah dua kali ke Watu Ulo. Pertama tanggal 28 Januari 2022 dan hari ini,” jelasnya.

Kelompok ini berangkat dari Nganjuk sekitar pukul 11.00 malam.

Mereka menempuh perjalanan selama 12 jam dan baru nyampai di Watu Ulo sekitar pukul 11.18 siang.

Sesampainya di pantai yang memiliki ikon batu memanjang bersisik mirip seperti tubuh ular ini, belasan orang tersebut segera menggelar ritual.

Belasan orang yang sebagian adalah perempuan itu, sama-sama duduk bersila.

Sejajar membentuk garis horizontal, dekat areal batu bersisik yang menyerupai ular.

Sebagian tubuh mereka terendam air. Beberapa orang juga terlihat memegang kendi berukuran mini. “Berdasarkan pengakuan, mereka datang kesini karena ada petunjuk gaib untuk membebaskan badan Watu Ulo atau Sansoko,” terangnya.

Kasatpolair Polres Jember Iptu Muhammad Nai mengungkapkan, saat melakukan ritual ada warga yang melapor ke polisi. Mendapat laporan itu, aparat segera bergerak ke lokasi.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan