Presiden Ukraina Perintahkan Pria Usia 18–60 Tahun Angkat Senjata, Intelijen AS: Kiev Jatuh dalam Hitungan Hari

  • Bagikan
HANCUR LEBUR: Petugas mengumpulkan puing-puing pesawat yang jatuh dan menabrak sebuah rumah di Kiev kemarin (25/2). (AFP)

FAJAR.CO.ID, KIEV– Melewati berbagai kota di tengah gempuran Rusia, berganti dari kereta api yang terhenti di pinggiran Kiev ke taksi yang mahal untuk membawa mereka ke pusat kota, sampailah suami istri itu di depan pintu gerbang. Tapi, yang didapat setelah hampir 12 jam melakukan perjalanan itu hanya pengumuman yang tertempel.

“Hari ini kami tidak bekerja, maaf atas ketidaknyamanannya.” Demikian pengumuman yang terpasang di pusat registrasi biometrik, Kiev, Ukraina, tersebut pada Kamis (24/2) lalu.

Seperti ditulis The Guardian, Fozan Dar dan istrinya, Iryna, yang membaca pengumuman tersebut langsung lemas. Iryna ingin mengurus visa agar bisa segera terbang ke Inggris bersama sang suami yang merupakan warga negara tersebut.

Universitas tempat Fozan Dar menempuh pendidikan mengevakuasi mahasiswa internasional. Tapi, istrinya yang warga negara Ukraina tidak bisa ikut tanpa visa.

“Saya tidak akan meninggalkannya. Saya harus melindunginya,” katanya.

Fozan dan Iryna hanya satu bagian dari arus eksodus Ukraina seiring kian masifnya serangan Rusia ke negeri tetangganya itu. Pasukan Negeri Beruang Merah bahkan sudah mendekati ibu kota Kiev.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengungkapkan bahwa 137 personel militer dan penduduk sipil telah terbunuh. Lebih dari 300 orang terluka kurang dari 24 jam pasca serangan. Jumlah tersebut terus merangkak naik setiap menitnya.

Betapa pun kuatnya Ukraina melawan, kekuatan mereka tidak sebanding dengan Rusia. Di lain pihak, blok Barat hingga kini belum mengirimkan bantuan ke garis depan.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan