Gus Dur: Muslim Terhormat akan Berpuasa dengan Menghormati yang Tidak Berpuasa

  • Bagikan
KH Andurrahman Wahid atau Gus Dur

FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Isu penutupan warung makan biasanya kerap muncul jelang bulan ramadhan. Alasannya untuk menghormati orang yang berpuasa.

Seperti imbauan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bekasi, Jawa Barat meminta pemilik usaha kuliner, seperti restoran, kafe, rumah makan, hingga warung kopi di wilayahnya tutup pada siang hari selama bulan Ramadan 1443 Hijriah.

Selain itu pengusaha tempat hiburan malam juga diminta menutup sementara aktivitas usahanya selama bulan puasa tersebut.

Belakangan, turun titah dari MUI pusat soal aturan penutupan warung makan selama Ramadhan.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Cholil Nafis menilai warung yang menjual makanan tak perlu ditutup saat bulan Ramadan.

Asalkan restoran tersebut tak memamerkan jualannya terhadap orang-orang yang sedang berpuasa.

Imbauan penutupan warung makan selama bulan puasa bukan kali ini terjadi. Ini telah menjadi kebiasaan bahkan telah membudaya.

Walaupun kelihatan aneh. Puasa adalah menahan diri dari hawa nafsu dan godaan. Termasuk makan dan minum.

Jika warung makan tetap buka dan dianggap sebagai sesuatu yang menggoda dan memancing hawa nafsu, di situlah tantangan sesungguhnya.

Perlu diingat, Indonesia tidak hanya dihuni oleh penganut Islam. Banyak pemeluk agama lain yang tidak puasa di bulan Ramadhan.

Bahkan ada pula muslimah yang mengalami haid. Juga ada muslim yang tidak berpuasa karena keadaan tertentu, seperti sakit atau alasan lainnya.

Orang-orang seperti ini membutuhkan makanan yang dipasok dari warung makan, restoran, atau cafe.

  • Bagikan