Beda Hari Pertama Puasa 2022 NU dan Muhammadiyah, Guru Besar Unhas: Ini Akibat Beda Definisi Tentang Hilal

  • Bagikan
Ilustrasi hilal

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR -- Perbedaan mengawali puasa dan berlebaran sudah sering terjadi, maka seluruh komponen umat Islam seharusnya bisa saling menerima, tanpa mempertajam perbedaan tersebut.

Kendati demikian, pada saat yang sama perbedaan tersebut seharusnya bisa menjadi bahan pembelajaran dan sumber inspirasi.

Guru Besar Fisika Teoretik FMIPA Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof Tasrief Surungan menjelaskan secara ilmiah, jika dicermati, perbedaan terjadi bukan karena perbedaan metodologi yang digunakan, yaitu Rukyatul Hilal (pengamatan hilal) dan Hisab (penghitungan).

Keduanya seharusnya konvergen, saling melengkapi, dan sampai pada simpulan yang sama.

"Pandangan saya sebagai pembelajar Fisika, perbedaan itu terjadi akibat beda definisi tentang Hilal. Padahal, kedua ormas besar di tanah air, yaitu NU dan Muhammadiyah, berpegang pada dalil yang sama, yaitu Berpuasalah karena Melihat hilal dan berbukalah karena melihat hilal (Hadith Riwayat Muslim)," jelas Prof Tasrief kepada fajar.co.id, Sabtu (2/4/2022).

Maksud Hadits ini adalah, awalilah puasa atau bulan ramadhan karena hilal telah teramati, dan rayakanlah lebaran (Idul Fitri) juga karena hilal.

Menurut Prof Tasrief, dalil itu disepakati oleh semua ulama, termasuk semua ormas Islam. Pertanyaan kemudian, kenapa bisa berbeda dalam mengawali Ramadhan?

"Hemat saya, karena perbedaan dalam mendefinisikan Hilal," katanya.

Menurut ilmu astrofisika, irisan antara fisika dan astronomi, hilal itu adalah fase dari bulan (phase of the moon), jadi penekannya bukan bulannya semata.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan