Mengenal Tradisi Ritual Nadah Banyu, Sebagai Bentuk Pelestarian Konservasi Air

  • Bagikan
Tradisi Prosesi Nadah Banyu di area Sumber Banyu Biru, Kelurahan Songgokerto.

FAJAR.CO.ID, BATU-- Tradisi ritual nggaret bumi (tusuk/menggarisi bumi). Ritual yang mengawali tradisi Nadah Banyu lan Resik Dandang kerap dilaksanakan oleh warga Dusun Songgoriti, Kelurahan Songgokerto, Batu, Malang.

Tokoh adat, tokoh masyarakat dan tokoh agama biasanya berkumpul di Punden Mbah Supo atau Makam Mbah Supo, tokoh yang menjadi cikal bakal berdirinya Songgoriti. Selepas itu mereka membawa wadah kemenyan, dandang serta pusaka desa ke Simpang Tiga Songgoriti yang berada tepat di depan Pasar Songgoriti.

Di sini, tokoh adat berdoa kemudian bersujud mengawali tradisi Nggaret Bumi. Salah satu tokoh adat memegang pusaka kemudian menorehkan ujung pusaka ke tanah kemudian menggesernya menelusuri jalan yang berada di samping Hotel Songgoriti Resort menuju ke sebuah Pohon Beringin tua yang ada di ujung jalan.

Tetua adat ini Nggaret Bumi sambil berjalan mundur diikuti tokoh adat yang lain yang bertugas menebarkan garam ke jalanan. Perjalanan ini berakhir di bawah sebuah Pohon Beringin yang besar. Di sela-sela akar pohon ini pusaka berupa keris ini ditancapkan kemudian diakhiri dengan doa. Bau kemenyan yang kuat membuat suasana terasa lain.

Selepas ritual Nggaret Bumi ini, para tetua adat beserta warga kembali ke Makam Mbah Supo di mana di bawahnya mengalir sumber air dan sebuah bendungan air yang disebut warga dengan sebutan Embung Rajekwesi.

Di tempat ini warga juga melaksanakan tradisi Resik Dandang (membersihkan peralatan dapur) dan Nadah Banyu yang merupakan simbol bersuci mempersiapkan datangnya bulan Ramadan sekaligus pelestarian sumber air.

  • Bagikan