Shaum dan Homo Economicus

  • Bagikan
Hamdan

Oleh: Hamdan

(Dosen Universitas Al Asyariah Mandar)

Pada artikel awal saya menjelaskan perlunya reinterpretasi shaum atau puasa yang selama ini dipahami sebagai ibadah dalam tindakan “menahan” diri dari makan dan minum, birahi, serta hati dan pikiran yang buruk.

Makna “menahan” perlu reinterpretasi lebih inklusif, yakni dengan memaknai shaum dalam arti “mengelola”.

Jika dikaitkan dengan makan dan minum, maka shaum adalah aktivitas ibadah (dilakukan atas dasar iman kepada Allah) yang menekankan pengelolaan konsumsi. Mengelola berarti menata dengan baik cara-cara mengkonsumsi menyangkut takaran kualitatif maupun kuantitatif, serta saat mana aktivitas konsumsi dapat dilakukan dan tidak dilakukan. Ada penataan pola konsumsi dan kedisiplinan waktu konsumsi.

Melalui penataan konsumsi, Shaum rupanya memiliki relevansi dengan posisi manusia sebagai homo economicus. Collins Dictionary menuliskan, homo economicus adalah manusia teoretis yang secara rasional menghitung biaya dan manfaat dari setiap tindakan sebelum mengambil keputusan, digunakan sebagai dasar untuk sejumlah teori dan model ekonomi.

UK Dictionary menambahkan homo economicus disebut juga manusia ekonomi (economic man). Mahluk yang menggunakan penilaian rasional untuk memaksimalkan utilitas sebagai konsumen dan keuntungan ekonomi sebagai produsen.

Terma oeconomicus berasal dari kata Yunani Kuno; “oikos” yang menunjuk pada rumah (home) atau bangunan rumah (house) dan “nemein” yang berarti pengelolaan. Secara harfiah oeconomicus diterjemahkan menjadi 'pengelolaan rumah tangga'. Kata ini digunakan oleh Xenophanes dalam artikelnya “The Oeconomicus” yang berisi dialog Socrates terutama tentang manajemen rumah tangga dan pertanian.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan