Volodymyr Zelensky Tuding Rusia Perlakukan Manusia Lebih Rendah dari Binatang

  • Bagikan
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menginjakkan kaki di Bucha, Kiev Oblast, Senin (4/4). Ukraina dikabarkan makin merapat ke Uni Eropa. (AFP)

FAJAR.CO.ID, KIEV -- Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menginjakkan kaki di Bucha, Kiev Oblast, Senin (4/4). Kota tersebut menjadi sorotan beberapa hari terakhir karena banyaknya jenazah penduduk sipil yang tergeletak di jalan. Pemimpin 44 tahun itu menyebut Rusia memperlakukan manusia lebih rendah dari binatang.

Sulit bagi Ukraina untuk terus bernegosiasi dengan Rusia pascatragedi di Bucha. Namun, Zelensky menegaskan bahwa semakin lama pembicaraan itu ditunda, situasi bakal kian memburuk. Dia juga berjanji akan mencari siapa pun yang bertanggung jawab atas kekejian di Bucha.

’’Kami ingin menunjukkan kepada dunia apa yang terjadi di sini. Apa yang dilakukan militer Rusia dan federasi Rusia pada negara Ukraina yang damai. Penting untuk diketahui, mereka (para korban, Red) adalah warga sipil,’’ ujar Zelensky, seperti dikutip CNN.

Pemerintah Ukraina mengungkapkan bahwa mereka menemukan 410 jenazah di wilayah sekitar ibu kota. Sebanyak 140 di antaranya telah diperiksa. Foto satelit milik Maxar Technologies menunjukkan adanya kuburan massal di dekat Gereja St Andrew and Pyervozvannoho All Saints di Bucha.

Para jurnalis yang datang ke Bucha melihat dengan mata kepala sendiri kekejian yang terjadi di kota tersebut. Beberapa jenazah dikubur seadanya di lubang yang dangkal. Kemungkinan mereka satu keluarga yang dibunuh. Ada perempuan yang ditemukan dalam kondisi telanjang, yang menguatkan dugaan telah terjadi tindak kejahatan perang berupa pemerkosaan.

Para pemimpin dunia mengecam kebrutalan di Bucha. Sekjen PBB Antonio Guterres, Presiden Prancis Emmanuel Macron, Kanselir Jerman Olaf Scholz, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, dan Duta Besar AS untuk PBB Linda Thomas-Greenfield sama-sama mengecam Rusia. Mereka menyerukan penyelidikan independen di Bucha.

’’Ini adalah indikasi yang jelas terjadinya kejahatan perang,’’ tegas Macron. Dia mendorong tambahan sanksi dengan target ekspor minyak dan batu bara Rusia. Namun, Macron tidak menyebut soal gas alam. Pun demikian dengan Jerman. Berlin menegaskan akan mengembargo sektor energi Rusia, namun tidak dipastikan kapan. Jerman adalah salah satu negara yang sangat bergantung pada Rusia soal gas alam.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Lithuania Gabrielius Landsbergis mengungkapkan, negaranya baru saja mengusir duta besar Rusia. Di sisi lain, duta besar Lithuania untuk Ukraina yang sempat dipulangkan akan dikembalikan ke Kiev. Sebelum Rusia menyerang, berbagai negara memang lebih dulu mengevakuasi staf kedutaan besar beserta keluarganya.

Uni Eropa (UE) yang bekerja sama dengan Ukraina sudah membentuk tim investigasi untuk menyelidiki dugaan kejahatan perang dan kejahatan kemanusiaan di Bucha. Presiden Komisi UE Ursula von der Leyen menyampaikan belasungkawa kepada Zelensky atas peristiwa itu.

Selain pembunuhan, laporan terjadinya pemerkosaan juga bermunculan setelah pasukan Rusia mundur. Para korban melapor ke polisi, lembaga HAM, dan media tentang perlakuan tentara Rusia. Mulai dari diperkosa ramai-ramai, dilecehkan dengan ancaman senjata, hingga diperkosa di depan anak-anaknya. Beberapa perempuan bahkan membawa gunting dan kondom saat melarikan diri untuk melindungi diri sendiri jika hal buruk menimpa mereka.

Presiden Lembaga La Strada Ukraine Kateryna Cherepakha meyakini bahwa laporan itu hanyalah ujung dari gunung es. Stigma dari masyarakat membuat para korban bungkam. Bantuan langsung pun tidak bisa diberikan karena situasi belum memungkinkan.

Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Rusia mengklaim bahwa yang terjadi di Bucha adalah setting-an belaka. Itu adalah perintah AS agar mereka bisa menyalahkan Rusia dan menodai reputasi mereka. Kecaman dari negara-negara Barat yang datang begitu cepat dan bertubi-tubi menjadi indikasi bahwa hal itu sudah direncanakan.

’’Siapa yang ahli provokasi? Tentu saja AS dan NATO,’’ ucap Jubir Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova. (sha/bay/jpg/fajar)

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan