Surat Berita Acara Kasus Gagal Bayar Indosurya Tidak Ada Tandatangan Penyidik dan Pemilik Barang

  • Bagikan
Keterangan Media di Bareskrim Kasus Gagal Bayar KSP Indosurya

FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Penangan kasus gagal bayar Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Indosurya Cipta kini masih berproses. Dugaan keterlibatan oknum bermain untuk menghilangkan alat barang bukti juga masih disuarakan tim kuasa hukum korban.

"Biasanya ketika penyidik di kasih uang sogok, maka penyidik memberikan perlakuan spesial kepada Saksi/Tersangka, dan pemeriksaan dapat dilakukan melalui email yang pertanyaannya dikirimkan ke saksi atau Tersangka, sehingga disinilah, bisa ada tandatangan yang tidak ada. Jika penyidikan dilakukan langsung, tatap muka, tidak mungkin lupa penyidik atau saksi membubuhkan tandatangannya." Ucap Advokat LQ Indonesia Lawfirm Alvin Lim, Rabu (6/4/2022).

Berdasarkan Surat Kejaksaan Agung, 9 Juli 2021 yang memiliki cap dan tandatangan a/n Jampidum, ditujukan untuk Direktur Tipideksus. Namun dari hasil temuan tim advokat, anehnya ada banyak surat penerimaan dan berita Acara penyitaan yang tidak ada tandatangan Saksi, penyidik dan orang yang menguasai barang.

"Bukankah prosedur penyitaan melalui KUHAP harus ada surat penyitaan disaksikan oleh pengurus lingkungan, harus ada tandatangan dari si pemilik barang? Ini kenapa banyak sekali surat penyitaan tidak ada tandatangan, bahkan berita acara penyitaan tanggal 17 September 2020, tidak ada tandatangan Penguasa barang Henry Surya, berdasarkan petunjuk jaksa no 46," pungkas Alvin Lim.

Lebih luas, (S) salah satu korban Indosurya, mengaku sedih dengan bukti surat kejaksaan yang ditunjukkan oleh tim kuasa hukum.

"Saya sedih, Polri yang menjadi harapan kami tampak tidak perduli akan nasib kami para korban Investasi bodong. Melihat isi surat kejagung yang mengatakan bahwa Tipideksus tidak sungguh-sungguh dalam penyidikan, tidak adanya tandatangan dan hilangnya bagian halaman Penyitaan." pungkas S. (riki/fajar)

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan