Melirik Dimensi Ekologi Shaum

  • Bagikan
Hamdan

Faktor ulah manusia lebih besar bahayanya dibanding peristiwa alam karena dapat berlangsung lama. Ulah manusia yang tidak ramah lingkungan seperti perusakan hutan,  alih fungsi hutan, pencemaran udara, air, dan tanah, pertambangan, dan lain sebagainya.

Permasalahan lingkungan dari waktu ke waktu semakin meningkat, layaknya penyakit komplikasi-kronis sehingga sukar disembuhkan. Mencermati trend peningkatan masalah lingkungan secara global di atas, nampaknya ia tidak cukup dihadapi hanya dengan menggunakan “kacamata positivisme”.

Diperlukan cara pandang lain yang dapat membantu proses pembentukan dan penumbuhan kesadaran masyarakat akan lingkungan. Dan lebih jauh lagi, yang dapat mendorong peran aktif masyarakat dalam penyelamatan dan pelestarian lingkungan. Salah satunya adalah yang bersumber dari agama melalui ajaran akhlak atau moral.

Terlalu dangkal hikmah puasa sebagai sebuah ibadah jika maknanya hanya sebatas tidak makan, tidak minum, dan tidak birahi dalam 12 jam selama 30 hari. Makna yang lebih lebih jauh dari itu, puasa yang disebut shaum merekomendasikan pengelolaan nafsu atau hasrat dalam memanfaatkan lingkungan sebagai sumber-sumber konsumsi.

Secara semiotik, terma makan-minum dan birahi dalam perintah puasa, merupakan tanda indeksikal yang menunjuk pada nafsu konsumtif dalam kaitannya dengan sumber-sumber kehidupannya. Kendalikan hasratmu maka kebutuhanmu akan terkendali. Hanya dengan kebutuhan yang terkendali, lingkungan dapat lestari.

Dengan demikian, shaum adalah ibadah yang mengandung ajakan pengelolaan lingkungan sebagai sumber konsumsi secara bijaksana, terukur, tertib, dan tidak berlebihan. Bukankah kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh ulah manusia berhulu pada faktor hasrat buas yang tidak mampu dikelola dan dikontrol dengan baik?

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan