Melirik Dimensi Ekologi Shaum

  • Bagikan
Hamdan

Dimensi ekologi shaum begitu mendasar dan perlu dikembangkan. Mengelola nafsu konsumtif agar tidak liar dan tidak buas, bertaut erat dengan pengelolaan kelestarian lingkungan sebagai sumberdaya. Pengelolaan yang bijaksana menuntut jiwa yang penuh integritas dan pengetahuan yang cukup bagi setiap muslim terkait issu-issu lingkungan yang ada dan akibat-akibat yang dapat timbul. Pengelolaan yang bijaksana juga menuntut kesadaran akan tanggung jawab manusia terhadap kelangsungan hidup generasi mendatang.

Shaum yang dihayati secara mendalam akan memperkenalkan kepada kita, betapa manusia dan alam semesta merupakan dua unsur yang tidak boleh terpisahkan. Keduanya saling berpaut dimana manusia sebagai mikro kosmos dan alam semesta sebagai makro kosmos. Keduanya menjadi jalan untuk mencapai titik “Yang Ilahi” sebagai metakosmos. Lebih jauh keterpautan tersebut dapat ditemukan terutama dalam tradisi spiritualisme Islam.

Itulah sebabnya, menanam tanaman sangat tinggi nilainya. Dalam suatu Hadis dari Ibnu Numair, Rasulullah saw bersabda, “Seorang muslim tidak menanam tanaman kecuali apa yang dimakan dari tanaman itu menjadi sedekah baginya. Apa yang dicuri dari tanaman itu menjadi sedekah baginya. Apa yang dimakan binatang buas menjadi sedekah baginya. Apa yang dimakan burung menjadi sedekah baginya. Dan tidaklah orang lain mengambil manfaat (dari pohon itu) kecuali menjadi sedekah bagi penanamnya.” (HR. Muslim).

Semoga puasa kita, tidak hanya sekedar keberhasilan menahan lapar, dahaga, dan birahi. Tetapi lebih dari itu dapat memberi manfaat atas keberlangsungan alam sekitar dan sumerdaya yang dikandungnya. (*)

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan