Melirik Dimensi Ekologi Shaum

  • Bagikan
Hamdan

Oleh: Hamdan eSA

(Dosen di Universitas Al Asyariah Mandar)

Pada tulisan sebelumnya berjudul Shaum dan Homo Economicus, saya menuliskan bahwa faktor yang mendorong dan sekaligus menjadi tujuan manusia melakukan aktivitas ekonomi adalah kebutuhan (needs). Berbagai kebutuhan manusia tidak sekedar mesti ada, melainkan juga mesti selalu tersedia, dalam kondisi baik, kualitas terjamin, dan penyebarannya secara merata.

Dalam konteks inilah shaum sesungguhnya hadir untuk tata-kelola pemenuhan kebutuhan. Hal ini penting dilakukan sebab hasrat manusia tidak pernah habis untuk memenuhi kebutuhannya. Hasrat besar untuk memenuhi kebutuhannya tersebut mengalahkan ketersediaan sumber daya alam yang jumlahnya kian terbatas.

Pemanfaatan sumber daya alam bertujuan untuk mendukung kehidupan manusia. Karena peran penting ini, keberadaannya mesti dilestarikan sebagai ikhtiar keberlanjutan ekologi dan kesejahteraan manusia. Penggunaan sumberdaya alam secara eksploitatif telah berdampak negatif, kerusakan lingkungan semakin memprihatinkan, bencana alam intensitasnya semakin tinggi.

Laporan berkala yang diterbitkan oleh World Economic Forum, dengan judul; The Global Risks Report 2021, Edisi 16, mendeskripsikan sejumlah issu teratas tentang resiko yang dihadapi oleh manusia secara global.

Laporan tersebut menyuguhkan setidaknya dua pendekatan yakni Top Global Risks by Likelihood dan Top Global Risks by Impact. Yang pertama melihat resiko global berdasarkan kemungkinan atau yang paling memungkinkan terjadi, dan yang kedua berdasarkan dampak yang akan terjadi.

Terdapat tujuh issu teratas dalam top global risks by likelihood yakni; cuaca ekstrim (extreme weather), kerusakan lingkungan manusia (human environmental damage), tindakan iklim (climate action), kegagalan mengatasi penyakit menular (infectious diseases failure), kehilangan keanekaragaman hayati (biodiversity loss), konsentrasi kuasa digital (digital power concentration), ketimpangan digital (digital inequality).

Dari ketujuh issu di atas, empat di antaranya merupakan issu lingkungan secara umum, satu issu kesehatan, sedangkan dua issu terakhir terkait dengan perkembangan dunia digital. Hal ini menggambarkan bahwa ancaman terbesar yang sedang dihadapi manusia secara global adalah kerusakan lingkungan.

Sementara itu dalam top global risks by impact, terdapat tujuh issu teratas pula yakni; penyakit menular (infectious diseases), senjata pemusnah massal (weapons of mass destruction), tindakan iklim (climate action), kegagalan atas hilangnya keanekaragaman hayati (biodiversity loss failure), krisis sumber daya alam (natural resource crises), kerusakan lingkungan manusia (human environmental damage), krisis mata pencaharian (livelihood crises).

Dari tujuh deretan issu berdasarkan dampak di atas, juga terdapat tiga issu terkait lingkungan, satu issu kesehatan, dan dua issu lainnya terkait masalah politik dan ekonomi. Data ini, lagi-lagi menggambarkan bahwa masalah terbesar yang dihadapi manusia adalah masalah lingkungan.

Selain faktor alam, penyebab rusaknya lingkungan secara umum adalah ulah manusia. Beberapa contoh faktor alam misalnya letusan gunung berapi, tanah longsor, gempa bumi, banjir, angin puting beliung, abrasi, dan tsunami. Namun jika cermati lebih jauh, beberapa bencana seperti banjir, abrasi, kebakaran hutan, dan tanah longsor dapat saja terjadi karena ulah manusia.

Faktor ulah manusia lebih besar bahayanya dibanding peristiwa alam karena dapat berlangsung lama. Ulah manusia yang tidak ramah lingkungan seperti perusakan hutan,  alih fungsi hutan, pencemaran udara, air, dan tanah, pertambangan, dan lain sebagainya.

Permasalahan lingkungan dari waktu ke waktu semakin meningkat, layaknya penyakit komplikasi-kronis sehingga sukar disembuhkan. Mencermati trend peningkatan masalah lingkungan secara global di atas, nampaknya ia tidak cukup dihadapi hanya dengan menggunakan “kacamata positivisme”.

Diperlukan cara pandang lain yang dapat membantu proses pembentukan dan penumbuhan kesadaran masyarakat akan lingkungan. Dan lebih jauh lagi, yang dapat mendorong peran aktif masyarakat dalam penyelamatan dan pelestarian lingkungan. Salah satunya adalah yang bersumber dari agama melalui ajaran akhlak atau moral.

Terlalu dangkal hikmah puasa sebagai sebuah ibadah jika maknanya hanya sebatas tidak makan, tidak minum, dan tidak birahi dalam 12 jam selama 30 hari. Makna yang lebih lebih jauh dari itu, puasa yang disebut shaum merekomendasikan pengelolaan nafsu atau hasrat dalam memanfaatkan lingkungan sebagai sumber-sumber konsumsi.

Secara semiotik, terma makan-minum dan birahi dalam perintah puasa, merupakan tanda indeksikal yang menunjuk pada nafsu konsumtif dalam kaitannya dengan sumber-sumber kehidupannya. Kendalikan hasratmu maka kebutuhanmu akan terkendali. Hanya dengan kebutuhan yang terkendali, lingkungan dapat lestari.

Dengan demikian, shaum adalah ibadah yang mengandung ajakan pengelolaan lingkungan sebagai sumber konsumsi secara bijaksana, terukur, tertib, dan tidak berlebihan. Bukankah kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh ulah manusia berhulu pada faktor hasrat buas yang tidak mampu dikelola dan dikontrol dengan baik?

Dimensi ekologi shaum begitu mendasar dan perlu dikembangkan. Mengelola nafsu konsumtif agar tidak liar dan tidak buas, bertaut erat dengan pengelolaan kelestarian lingkungan sebagai sumberdaya. Pengelolaan yang bijaksana menuntut jiwa yang penuh integritas dan pengetahuan yang cukup bagi setiap muslim terkait issu-issu lingkungan yang ada dan akibat-akibat yang dapat timbul. Pengelolaan yang bijaksana juga menuntut kesadaran akan tanggung jawab manusia terhadap kelangsungan hidup generasi mendatang.

Shaum yang dihayati secara mendalam akan memperkenalkan kepada kita, betapa manusia dan alam semesta merupakan dua unsur yang tidak boleh terpisahkan. Keduanya saling berpaut dimana manusia sebagai mikro kosmos dan alam semesta sebagai makro kosmos. Keduanya menjadi jalan untuk mencapai titik “Yang Ilahi” sebagai metakosmos. Lebih jauh keterpautan tersebut dapat ditemukan terutama dalam tradisi spiritualisme Islam.

Itulah sebabnya, menanam tanaman sangat tinggi nilainya. Dalam suatu Hadis dari Ibnu Numair, Rasulullah saw bersabda, “Seorang muslim tidak menanam tanaman kecuali apa yang dimakan dari tanaman itu menjadi sedekah baginya. Apa yang dicuri dari tanaman itu menjadi sedekah baginya. Apa yang dimakan binatang buas menjadi sedekah baginya. Apa yang dimakan burung menjadi sedekah baginya. Dan tidaklah orang lain mengambil manfaat (dari pohon itu) kecuali menjadi sedekah bagi penanamnya.” (HR. Muslim).

Semoga puasa kita, tidak hanya sekedar keberhasilan menahan lapar, dahaga, dan birahi. Tetapi lebih dari itu dapat memberi manfaat atas keberlangsungan alam sekitar dan sumerdaya yang dikandungnya. (*)

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan