Salah Tetapkan Tersangka, Kompolnas Soroti Penggunaan Alat Face Recognition Dalam Identifikasi Pengeroyokan Ade Armando

  • Bagikan
Pegiat media sosial sekaligus Dosen Universitas Indonesia Ade Armando babak belur dikeroyok massa. Ade jadi bulan-bulanan massa yang diduga bukan berasal dari mahasiswa BEM SI yang melakukan aksi unjuk rasa di depn Gedung DPR/MPR Jakarta, Senin (11/4). (Istimewa)

FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) menyoroti penggunaan alat face recogniton dalam mengindentifikasi dan menetapkan terduga pelaku pengeroyokan pegiat media sosial Ade Armando.

Akibat penggunaan alat itu, Abdul Manaf sempat dijadikan tersangka pengeroyokan.

Belakangan, Polda Metro Jaya meralat status pria itu.

Merespons itu, Komisioner Kompolnas Poengky Indarti menilai Polda Metro Jaya telah melakukan kekeliruan.

"Diharapkan ke depan tidak terjadi lagi kekeliruan seperti ini," kata Poengky saat dikonfirmasi JPNN.com, Sabtu (23/4) malam.

Lulusan hukum Universitas Airlangga itu mengakui face recognition memang alat baru dan canggih yang terhubung dengan data Dukcapil.

Namun, kata dia, polisi perlu membutukan bukti lain untuk menetapkan seseorang sebagai tersangka.

"Namanya alat bantu, perlu juga dicocokkan dengan bukti lain dan keterangan saksi," ujar Poengky.

Sebelumnya, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Endra Zulpan mengatakan jika Abdul Manaf tidak terlibat pengeroyokan pegiat media sosial Ade Armando saat demo mahasiswa di depan Gedung DPR Jakarta Pusat, Senin (11/4) sore.

Zulpan menyebut penyidik sempat mengidentifikasi keberadaan Abdul Manaf melalui sistem face recognition yang diketahui berada di Karawang, Jawa Barat.

Setelah dilakukan pencocokan, pemeriksaan awal ternyata Abdul Manaf tidak terlibat dalam pengeroyokan Ade Armando.

"Kami temukan keberadaanya di Karawang. Setelah kami lakukan pencocokan, ternyata Abdul Manaf itu tidak terlibat," kata Endra Zulpan di Jakarta, Rabu (13/4). (jpnn/fajar)

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan