Ekspor Minyak Goreng Disetop, Antonius Satria Hadi Bilang Indonesia akan Kehilangan Devisi Sebesar Rp43 Triliun Sebulan

  • Bagikan
Pekerja menuang minyak curah di salah satu agen sembako di kawasan pasar Pondok Labu, Jakarta, Rabu (26/1/2022). Setelah pemerintah membelakukan kebijakan satu harga, yakni minyak goreng berbanderol Rp 14 ribu per liter, ternyata penyesuaian harga tersebut belum terjadi di semua pasar tradisional. Salah satunya di Pasar Jaya Pondok Labu, Jakarta. Foto: Dery Ridwansah/ JawaPos.com

FAJAR.CO.ID, YOGYAKARTA - Larangan ekspor minyak goreng oleh pemerintah dinilai berimbas pada sektor keuangan dalam negeri dan kacaunya pasokan minyak di pasar dunia.

Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Widya Mataram Antonius Satria Hadi mengatakan kebijakan tersebut menimbulkan efek domino di mana akan terjadi kenaikan harga kebutuhan pokok di dunia sehingga memicu inflasi global.

Menurutnya, apabila keputusan tersebut dilaksanakan maka Indonesia harus merelakan devisa dalam jumlah besar.

"Indonesia akan kehilangan devisa melalui pelarangan ekspor minyak CPO pada kisaran Rp 43 triliun selama sebulan penuh tanpa ekspor," kata dia pada Jumat (29/4).

Kemudian, stabilitas rupiah akan terganggu karena kehilangan 12 persen dari total ekspor nonmigas.

"Berdasarkan data BPS, Indonesia hanya menggunakan 10 persen dari total produksi setiap bulannya sehingga jika tidak diekspor akan memunculkan masalah baru di mana ketersediaan minyak goreng menjadi sangat melimpah," paparnya.

Lebih lanjut, Antonius mengatakan sejumlah negara bakal melakukan protes, seperti India, Cina, dan Pakistan karena kekurangan stok minyak di pasar.

India, menurutnya dengan pasokan minyak goreng yang menurun maka diprediksi harga kebutuhan seperti kue, sabun mi hingga sampo akan naik 10 persen.

Di sisi lain, keberadaan Malaysia dinilai tidak akan mampu mengisi slot kosong yang ditinggalkan Indonesia.

"Dengan dampak yang begitu luas ini, ada baiknya pemerintah mengkaji kembali kebijakan pelarangan ekspor demi kepentingan bersama," ujar dia. (jpnn/fajar)

  • Bagikan