Balas Cuitan Politikus Partai Gelora, Adian Napitupulu Banyak Ajukan Pertanyaan ke Mana dan di Mana Fahri Hamzah?

  • Bagikan
Politikus PDI Perjuangan Adian Napitupulu Foto : Ricardo/JPNN.com

FAJAR.CO.ID, JAKARTA - Kicauan politikus Partai Gelora Fahri Hamzah lewat akun Twitternya, 7 Mei lalu, berbuntut panjang. Pentolan aktivis 98 Adian Napitupulu bereaksi keras menanggapi kicauan tersebut.

Fahri lewat akun Twitter @fahrihamzah sebelumnya membuat kicuan dengan judul 'Pesan Pada Generasi ku'.

Dia kemudian mengingatkan enam hal. Yakni, jangan membiarkan kebebasan terancam, jangan membiarkan rakyat sakit dan menderita, jangan membiarkan penguasa menganiaya.

Kemudian, jangan membiarkan pengusaha mengatur negara, jangan menjadi corong penguasa dan mengingatkan untuk melindungi serta membantu para mahasiswa dan oposisi.

Fahri dalam kicauannya menyertakan foto dua pentolan aktivis'98 Adian Napitupulu dan Budiman Sudjatmiko.

Menanggapi hal tersebut, Adian terlebih dahulu mengucapkan terima kasih kepada Fahri Hamzah. "Saya tidak tahu pesan itu untuk semua yang satu generasi atau hanya untuk saya dan Budiman saja. Karena foto yang ada dalam twitnya itu hanya foto saya dan Budiman, bukan foto orang banyak," ujar Adian dalam keterangannya, Kamis (12/5).

Sekjen Pena'98 ini merasa pesan yang disampaikan Fahri seakan mempertanyakan komitmen perjuangan, komitmen kerakyatan dirinya dan Budiman, setelah 24 tahun reformasi.

"Jika demikian, izinkan saya menjawab itu dengan sedikit berbagi cerita pada Fahri. Saya ingat ketika saya dan kawan kawan tersisa yang masih di jalan tahun 1999, Fahri sudah menjadi staff ahli di MPR," ujar Adian.

Fahri kemudian dilantik menjadi anggota DPR pada 2004, sementara Adian dan sejumlah akivis'98 lainnya masih dalam tekanan, bahkan ada beberapa yang ditangkap.

"Kantor Pengacara saya di police line pada 2008. Saya dikejar hingga menjadi gelandangan, berkeliling dari kota ke kota lalu menjadi pengumpul trolly di berbagai pusat perbelanjaan negara orang. Saya juga dipukuli hingga babak belur oleh belasan polisi di pengadilan Jakarta Pusat pada 2010," ucapnya.

  • Bagikan