Distribusi Minyak Goreng di NTT Terkendala, Abdul Rosyid Arsyad: Jadi Bagaimana Bisa Merata dan Harga Minyak Goreng Turun?

  • Bagikan
Pekerja menuang minyak curah di salah satu agen sembako di kawasan pasar Pondok Labu, Jakarta, Rabu (26/1/2022). Setelah pemerintah membelakukan kebijakan satu harga, yakni minyak goreng berbanderol Rp 14 ribu per liter, ternyata penyesuaian harga tersebut belum terjadi di semua pasar tradisional. Salah satunya di Pasar Jaya Pondok Labu, Jakarta. Foto: Dery Ridwansah/ JawaPos.com

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Distribusi minyak goreng curah di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) sempat mengalami kendala. Pasalnya, mobil tangki pengangkut minyak goreng curah ke pelosok terbatas.

Ketua Umum Komite Pedagang Pasar (KPP) Abdul Rosyid Arsyad menyampaikan, selain kurangnya mobil tangki minyak goreng, adalagi masalah yang dialami saat pendistribusian.

“Seluruh agen dan pedagang di wilayah NTT tidak memiliki tangki penampung sehingga distribusi sempat sedikit tersendat ke agen dan pedagang. Jadi, bagaimana bisa merata dan harga minyak goreng turun?” kata Rosyid dalam keterangannya kepada media, Selasa (17/5).

Dia menjelaskan mobil tangki yang sudah disediakan terpaksa bertahan di setiap satu pasar dan melayani pembelian, baik dari agen dan pemilik warung secara langsung. Itu karena agen dan pedagang tidak memiliki tangki penampung.

Para agen dan pedagang pun disarankan membeli jeriken ukuran 20 kg dan toren air ukuran 1.000 kg. Namun, hanya sedikit agen dan pedagang yang siap.

Rosyid menjelaskan masih banyak minyak goreng curah yang belum tersalurkan kepada agen, pedagang dan masyarakat. KPP bersama Gerakan Aspirasi Masyarakat dan Pedagang (GASMAP) langsung bekerja sama dengan seluruh perkumpulan paguyuban UMKM, suku, etnis, elemen organisasi dan lintas agama di NTT.

Dia mengatakan semua bergotong royong menyiapkan ribuan jeriken kosong dengan ukuran lima kilogram dan 25 kilogram, toren air kapasitas minimal 1,5 ton dan drum kapasitas ratusan kilo.

  • Bagikan