KTP Jadi Syarat Pembelian Minyak Curah, Pengamat Sosial: Saya Kurang Yakin Itu Efektif

  • Bagikan
Ilustrasi Minyak Goreng Curah

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo baru saja menerbitkan surat telegram yang memerintahkan jajaran Polda untuk mengawal kebijakan pemerintah terkait dengan minyak goreng curah.

Surat Telegram Nomor ST/990/V/RES.2.1/2022 tanggal 20 Mei 2022 itu ditujukan untuk memastikan ketersediaan minyak goreng, kelancaran distribusi, juga harga penjualan mulai dari pelaku usaha hingga konsumen akhir.

Menanggapi hal tersebut Pengamat Sosial Yudi Syamhudi Suyuti mengatakan, langkah Kapolri sudah tepat. Pasalnya, potensi kebocoran minyak goreng curah sangat tinggi pada tingkat distribusi.

“Kelemahan intervensi kebijakan semacam ini adalah implementasi, banyak kebocoran sehingga sulit mencapai level harga eceran tertinggi,” pungkas Yudi, Rabu, (25/5/2022).

Dia menyatakan, pemerintah sudah lama menetapkan HET minyak goreng curah sebesar Rp 14.000 per liter atau Rp 15.500 per kilogram.

Sejumlah program turunan juga sudah dijalankan serta terus disempurnakan, seperti aplikasi Sistem Informasi Minyak Goreng Curah (SIMIRAH) dan program MigorRakyat.

Namun, lanjut Yudi, program tersebut belum efektif dalam mengatur pasokan, distribusi, dan harga bagi masyarakat dan pelaku usaha mikro dan usaha kecil.

“Saya juga kurang yakin syarat pembelian dengan KTP bisa jamin tepat sasaran, karena kita tahu KTP tidak terintegrasi dengan data tingkat kesejahteraan seseorang,” ujarnya. ( riki/fajar)

  • Bagikan