Pemilu dan Pilkada Beda 7 Bulan, Anthony Budiawan: Jadwal Ini Mengundang Curiga Masyarakat

  • Bagikan
Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS), Anthony Budiawan/Net

FAJAR.CO.ID, JAKARTA-- Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 akan menjadi pesta akar. Di tahun itu akan dilakukan pemilihan presiden, legislatif dan kepala daerah.

Hanya saja, pelaksanaannya dibagi dua, Pilpres dan Pileg digelar lebih awal di bulan Februari. Sementara Pilkada baru pada bulan November.

Adanya perbedaan waktu itu, ikut ditanggapi Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS), Anthony Budiawan.

Dia menyoroti adanya penundaan Pilkada mulai tahun 2022 ini. Akibatnya banyak kepala daerah diisi untuk sementara waktu oleh penjabat kepala daerah.

"Pilkada 2022 diundur, dan ditunjuk Penjabat. Sementara itu, jabatan Presiden selesai Okt 2024. Niatnya Pilkada dan Pilpres serentak 2024, artinya berbarengan. Tapi ternyata tidak juga, jaraknya jauh. Pilpres Feb, Pilkada Nov. Jadi, apa gunanya serentak?," kata Anthony dikutip Fajar.co.id di akun Twitternya, Sabtu (28/5/2022).

Anthony Budiawan menyebut dengan adanya perbedaan waktu pelaksanaan pemilu dan pilkada, tak ada gunanya menunda pelaksanaan Pilkada di daerah.

"Dengan jadwal Pilpres dan Pilkada seperti itu, apa gunanya menunda Pilkada 2022: toh tidak serentak juga?," ungkapnya.

Dia bahkan menaru curiga atas jadwal yang telah disusun oleh KPI, Bawaslu, pemerintah dan DPR itu.

"Jadwal ini mengundang curiga masyarakat Pilpres tidak akan Jurdil, penunjukan Penjabat Kepala Daerah demi melanggengkan kekuasaan, dibantu dengan kotak kardus? RIP pemilu," pungkasnya.

Seperti diketahui, Pemerintah bersama DPR, DKPP, KPU, dan Bawaslu memutuskan bahwa Pemilu Presiden-Wakil Presiden serta anggota DPR, DPD, dan DPRD akan diselenggarakan pada 14 Februari 2024.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan