Kamrussamad Ingatkan PNBP Belum Optimal di Tengah Pendapatan Negara Meningkat

  • Bagikan
Anggota Komisi XI DPR RI Kamrussamad dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati

FAJAR.CO.ID, JAKARTA-- Kendati pendapatan negara mengalami peningkatan di atas 100 persen untuk pertama kalinya sejak 12 tahun terakhir, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dinilai belum optimal.

Hal itu ditegaskan anggota Komisi XI DPR RI, Kamrussamad. Ia mengapresiasi pendapatan negara yang meningkat. Hanya saja, beber anggota Fraksi Gerindra, porsi PNBP dibanding total pendapatan negara masih belum optimal.

"Saya apresiasi pendapatan negara meningkat. Tahun 2021 mencapai Rp 2.011 triliun," jelasnya.

Menurut anggota Fraksi Gerindra, pendapatan negara ini adalah pencapaian di atas 100% pertama kali sejak 12 tahun terakhir.

Dia merinci, berdasarkan catatan kementerian keuangan, rincian pendapatan negara terdiri dari penerimaan perpajakan Rp1.547,8 triliun, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp458,5 triliun, dan penerimaan hibah sebesar Rp5 triliun.

"Kalau dilihat dari total pendapatan negara, proporsi PNBP hanya 22 persen. Di 2018 porsi PNBP ada di 21 persen, sempat turun di tahun 2019 di angka 20 persen. Jadi, meskipun trennya meningkat, tapi peningkatannya tidak signifikan. Padahal pada 2005, porsi PNBP bisa mencapai 30 persen dari total pendapatan negara," beber legislator daerah pemilihan Jakarta Utara, Jakarta Barat, dan Kepulauan Seribu ini.

Dari angka itu, beber Kamrussamad, menandakan PNBP belum optimal, terutama pada sektor-sektor non SDA.

Kamrussamad menyarankan, perlunya roadmap dan strategi yang jelas dari Dirjen Anggaran Kementerian Keuangan, untuk optimalisasi PNBP ke depannya. "Apalagi tahun depan tren commodity boom akan menurun. Potensi PNBP SDA bisa jadi tidak akan setinggi 2021 dan 2022," jelasnya.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan