Khazanah Kopi Khas Sulsel, Varietas Lokal Primadona Dunia

  • Bagikan
FOTO: AKBAR/FAJAR

KOPI Kahayya kini jadi primadona dunia. Meski awalnya dipandang sebelah mata.

Akbar Wahyudi
Bulukumba

AWAL Irsyad tak pernah menyangka kopi Kahayya menjadi primadona dunia. Pada tahun 2000-an, kopi hanya dianggap komoditas biasa.

Petani di Desa Kindang tak menjadikan kopi sebagai komoditas utama. Alasannya sangat rasional, biji kopi nyaris tak ada nilainya. Komoditas utama di Kindang hanya cengkih dan kakao.

Kini berubah. Hamparan tanaman kopi mendominasi kebun-kebun warga. Irsyad mengaku bahagia ketika melihat petani sibuk memetik kopi.

Pengenalan kopi Kahayya berawal dari
sentilan ke pemerintah. Awal Irsyad waktu itu sedih melihat kehidupan di desa. Komoditasnya melimpah namun tidak ada perhatian. Aksesnya sulit. Hanya bisa dijangkau dengan jalan kaki atau menggunakan kuda.

Owner Indonesia Making Project (IMP) itu
kemudian melihat potensi di desa yang berbatasan dengan Sinjai itu. Melalui IMP, Irsyad menyentil pemerintah dengan kekayaan alam.

Ia tak kenal lelah melatih petani mengelola
kopi. Mulai dari panen, pengolahan, hingga pemasaran. Irsyad mem-branding kopi di pelosok Bulukumba itu dengan
nama kopi Kahayya.

"Kahayya" berasal dari kata "Kaha" yang diserap dari bahasa Arab yakni "qahwa" yang berarti kopi. Sedangkan akhiran "yya" dalam bahasa Konjo merupakan subbahasa Makassar memiliki arti "penunjukan tempat".

"Jadi, Kahayya memiliki arti tempatnya kopi," ujar Irsyad.

Kahayya tak hanya menjadi nama kopi, kini menjadi desa. Setelah kopi Kahayya dikenal luas, Desa Kindang dimekarkan. Kampung pecahannya bernama Kahayya. Setelah mekar, infrastrukturnya dibenahi. "Ini cara demonstrasi (membangun pelosok,red)
kami tanpa membentangkan spanduk kepada pemerintah," kenang Irsyad.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan