Kamrussamad Harap Pemerintah Memastikan BBM Subsidi Tepat Sasaran

  • Bagikan
Anggota Komisi XI DPR RI Kamrussamad dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati

FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Akan ada dampak runtutan atas kenaikan harga energi. Khususnya nonsubsidi, seperti elpiji 5,5 dan 12 kg, Pertamax Turbo dan Dex Lite, serta rencana TDL 3.500 VA ke atas.

Anggota Komisi XI DPR RI, Kamrussamad, menilai faktor utama kenaikan adalah pengaruh harga global. "80 persen elpiji non subsidi bahan bakunya dibeli melalui impor," bebernya.

Menurutnya, tingkat kenaikan sebesar Rp 2.000/kg dapat dikatakan cukup kompetitif, tidak terlalu tinggi. Namun, beber politisi Gerindra ini, yang perlu diantisipasi adalah dampak psikologis dari kenaikan harga elpiji yang cenderung akan mendorong kenaikan harga-harga barang.

Kamrussamad berharap, pemerintah perlu mewaspadai adanya shifting atau migrasi penggunaan LPG di masyarakat dari yang sebelumnya menggunakan elpiji non subsidi ke elpiji yang sifatnya subsidi.

"Kecuali kalau subsidinya tertutup. Tertuju ke per orangan, bukan lagi secara terbuka dengan mekanisme subsidi barang, potensi migrasi menjadi lebih kecil,"jelas Pendiri KAHMIPreneur, Selasa, (12/7/2022).

Terkait dampak, menurut Kamrussamad, kalau dilihat di lapangan, rata-rata pembeli tabung elpiji non subsidi di SPBU adalah rata-rata kalangan rumah tangga, bahkan pelaku usaha seperti warteg, dan jasa catering.

Melihat kenaikan sebelumnya, beber Kamrussamad, rata-rata penurunan omset pedagang dari elpiji non subsidi 10-20 persen. Artinya, 20 persen ini yang shifting ke elpiji subsidi.

Soal finansial Kemenkeu menghadapi naiknya harga energi. Apalagi, usulan penambahan subsidi Pertalite ditolak banggar, menurut Kamrussamad di tahun 2022 alokasi subsidi energi dan kompensasi BBM lebih dari Rp500 triliun. "Jauh lebih besar dibanding 2021," jelasnya.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan