Hikayat Kopi Tua dari Pegunungan Basseang

  • Bagikan
Biji Kopi Basseang yang sudah dikupas, diolah, dan dijadikan berbagai produk baru. Termasuk Kobass Drip, kopi celup tanpa ampas.

FAJAR.CO.ID -- ”Kopi di sini sudah ratusan tahun, memang kopi tua. Hasil laboratorium menyatakan, cupingnya di angka 86, sedangkan standar ekspor cuma 83. Ada rasa karamel asli, ada yang mengandung cita rasa tanah juga, karena akarnya sudah menjalar kemana-mana”

Isra sumringah. Dia begitu antusias berkisah seputar Kopi Basseang. Kopi yang sudah ditekuni secara turun temurun oleh masyarakat Desa Basseang, Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang. Dia menyebutnya, Kobass.

Basseang sendiri terletak di pedalaman Pinrang. Seluruh kawasannya perbukitan dan beberapa bagiannya ditumbuhi hutan pinus. Dingin dan sedikit lembab. Berbatasan langsung dengan Toraja, dan hanya dipisahkan oleh sungai dari wilayah Patekkong dan Desa Ollong, Kabupaten Enrekang.

Jaraknya sekitar 60 kilo meter dari pusat Kota Pinrang. Tetapi waktu tempuhnya sedikit lebih lama, butuh 2 sampai 3 jam untuk bisa sampai ke sana. Itu karena medan jalan yang masih setapak, berbatu, dan berada di bibir jurang.

Meskipun beberapa titik ruas menuju ke sana sudah dibeton, tetapi tidak jarang juga yang masih rusak. Berlumpur saat hujan dan berdebu saat musim kemarau tiba. Saat pagi hari, kondisi jalan cenderung licin karena embun yang membasahi.

Mayoritas warga di sana memiliki pencaharian sebagai petani, tidak terkecuali pengrajin kopi. Meski sebagian kecil lainnya ada yang berprofesi sebagai wiraswasta maupun pekerja pemerintahan di kantor desa setempat.

Cikal bakal Kopi Basseang sendiri pada dasarnya sudah tumbuh sejak zaman kolonial Belanda. Sekitar 300 tahun yang lalu. Asalnya dari timur tengah yang dibawa oleh para penjajah.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan